PT. Enerstell Kena “Semprot” BPBD Morut Saat Rakor Mitigasi Bencana
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Senin, 15 Des 2025
- visibility 13
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Kepala BPBD Morowali Utara, Delfia Parenta, “menyemprot” PT. Enerstell dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Mitigasi Bencana Pemerintah Daerah Morowali Utara (Morut) bersama perusahaan pertambangan yang beroperasi di wilayah Kabupaten Morowali Utara.
Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Morowali Utara, Senin (15/12/2025), dan dihadiri belasan Kepala Teknik Tambang (KTT) dari berbagai perusahaan.
Rakor ini difokuskan pada upaya pencegahan bencana alam, khususnya banjir dan tanah longsor, seiring meningkatnya curah hujan serta masifnya aktivitas pertambangan di daerah tersebut.
Dalam rapat tersebut, Delfia Parenta mulai menyoroti PT. Enerstell yang dinilai menjadi penyebab masalah, sementara pimpinan perusahaan hanya diwakili oleh KTT.
“Jadi kamu punya tanggung jawab itu material yang di atas itu, jangan dia turun ke sungai.
Jadi setiap kali pertemuan saya evaluasi setiap pertemuan itu jadi yang bukan mengambil keputusan, kebijakan, itu yang hadir, jadi alasan selalu saya komunikasikan dulu dengan pimpinan, jadi tolong kasih tahu pimpinannya ee, pimpinannya yang harus hadir,” tegas Delfia (15/12).
Bahkan Delfia menyebut PT. Enerstell tidak jelas penanggung jawabnya.
“Ke Petasia Timur hasil evaluasi saya ada perusahaan satu Enerstell itu yang benar-benar menimbulkan masalah-masalah sungai di Tambalako. Ini Enerstell sudah berapa kali kita kunjungi. Sampai sekarang tidak jelas penanggung jawabnya, ini sudah take over berapa kali.
Kenapa itu pak setiap kali banjir dia meluap, satu tahun dua kali dia meluap itu karena sudah terjadi pendangkalan,” ujar Delfia.
Ia juga menyoroti akibat pendangkalan sungai yang menyebabkan luapan air dan berdampak pada tujuh rumah warga di Petasia Timur yang disebutnya menjadi tanggung jawab PT. Enerstell.
“Sebenarnya itu tanggung jawab dari PT. Enerstell akibat longsor dari sedimen pol yang tidak terawat akhirnya menabrak ke PT. Genbha. Sehingga kemarin 7 rumah itu kita turunkan dana BTT 1,5 miliar dan sudah selesai dilaksanakan itu, itu sebenarnya tanggung jawab dari PT. Enerstell. Mohon perhatian dari PT. Enerstell, sedimen pon tidak pernah dirawat, bahkan besaran sedimen pon tidak bisa menampung dari luasan,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan PT. Enerstell yang hadir menjelaskan upaya perusahaan dan mengakui adanya longsoran yang menyebabkan banjir di Sungai Tambalako. Ia juga menyebut alat berat perusahaan sempat ditahan.
“Ada areal longsoran yang membuat badan sungai menyempit,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa terdapat sejumlah masalah lain yang harus diselesaikan PT. Enerstell sebelum mendapatkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKB).
Rakor ini turut dihadiri oleh Bupati Morowali Utara, Wakapolres, perwakilan Kejaksaan Negeri, serta perusahaan-perusahaan pertambangan yang beroperasi di Morowali Utara.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar