Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Serba Serbi » Opini: Potret Miris Pendidikan Dasar, Wabup Morowali Utara, “Tersesat di Rumah Sendiri”

Opini: Potret Miris Pendidikan Dasar, Wabup Morowali Utara, “Tersesat di Rumah Sendiri”

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Minggu, 14 Sep 2025
  • visibility 14
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Opini– Sejak Januari hingga September 2025, kami menelusuri kondisi nyata sekolah dasar di Kabupaten Morowali Utara (Morut). Hasilnya sungguh menyayat hati. Di balik jargon kemajuan daerah penghasil tambang, masih banyak SD yang harus berdiri dengan plafon jebol, retak, bahkan nyaris roboh. Pemandangan ini bukan hanya merusak estetika ruang belajar, tetapi juga mengancam keselamatan murid dan guru yang setiap hari beraktivitas di dalamnya.

Ironisnya, kondisi ini terjadi tidak hanya di pelosok, tetapi juga di wilayah lingkar tambang, tempat miliaran rupiah pendapatan daerah seharusnya memberi dampak positif bagi masyarakat, khususnya sektor pendidikan dasar. Lebih miris lagi, proyek-proyek rehabilitasi sekolah yang terus digelontorkan anggaran justru kerap berakhir dengan kualitas rendah. Plafon-plafon yang baru diperbaiki kembali mengelupas dan jebol hanya dalam hitungan bulan.

Padahal, Morowali Utara saat ini dipimpin oleh seorang Wakil Bupati yang punya latar belakang birokrasi panjang dan dinilai memahami seluk-beluk persoalan pendidikan dasar. Ekspektasi publik pun tinggi: pendidikan dasar mestinya menjadi fokus, karena dari sinilah lahir generasi muda yang cerdas, sehat, dan siap bersaing. Namun kenyataannya, anak-anak Morut masih dipaksa belajar dalam kondisi yang tidak layak, kelas pengap, plafon ambrol, kursi reyot, sebuah potret kemiskinan fasilitas di tengah limpahan dana daerah.

Pertanyaannya: bagaimana mungkin kita berharap lahir generasi cerdas, berkarakter, dan berdaya saing, jika mereka sejak dini sudah “ditempa” di lingkungan yang membahayakan keselamatan jiwa? Pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan guru, tetapi juga soal rasa aman, nyaman, dan layak dalam proses belajar-mengajar.

Fakta-fakta ini seolah menampar kesadaran kita bersama dan menjadi cermin pahit bagi pemerintah daerah, khususnya Wakil Bupati Morowali Utara. Di rumahnya sendiri, yang seharusnya ia kenal dan ia jaga, justru masalah-masalah mendasar pendidikan tampak terabaikan. Kritik ini bukan sekadar menyalahkan, tetapi mengingatkan: tanpa keberanian memperbaiki fondasi pendidikan dasar, mimpi besar membangun Morowali Utara yang maju hanyalah ilusi di atas plafon rapuh.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less