Opini: Merawat Akal Sehat
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Senin, 11 Mei 2026
- visibility 12
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Opini: Orang Gereja yang Merawat Akal Sehat
Oleh: Om Hendly
Dalam perjalanan kehidupan bermasyarakat, gereja memiliki peran yang sangat khas: membentuk karakter, menumbuhkan iman, dan menjaga nilai kemanusiaan. Fungsi ini bersifat moral dan spiritual, bukan politis.
Karena itu, menjaga batas antara ruang gerejawi dan arena politik bukan berarti menjauh dari persoalan bangsa, tetapi memastikan bahwa gereja tetap berdiri sebagai penuntun nurani, bukan alat kepentingan.
Ketika batas ini kabur, yang paling terdampak adalah kepercayaan umat. Jemaat datang ke gereja untuk mencari penguatan iman, bukan untuk dihadapkan pada preferensi politik tertentu. Jika mimbar rohani mulai dipersepsikan sebagai panggung dukung-mendukung, maka gereja berisiko kehilangan posisinya sebagai rumah bersama yang menaungi semua orang, apa pun latar belakang pilihan politiknya.
Padahal, di dalam gereja berkumpul orang dengan beragam pandangan, pengalaman hidup, dan pilihan demokratis.
Gereja seharusnya menjadi ruang yang mempersatukan perbedaan itu dalam kasih, bukan mempertegas sekat-sekatnya.
Di sinilah pentingnya akal sehat dan kedewasaan iman. Orang beriman tidak anti terhadap politik, karena politik adalah bagian dari kehidupan berbangsa. Namun keterlibatan itu berada pada ranah pribadi sebagai warga negara, bukan membawa institusi gereja sebagai kendaraan kepentingan.
Perbedaan ini tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Ketika gereja menjaga jarak institusional, ia tetap memiliki otoritas moral untuk menegur ketidakadilan, menyuarakan kebenaran, dan membela yang lemah tanpa dicurigai berpihak pada kelompok tertentu.
Peran tokoh masyarakat menjadi sangat strategis dalam menjaga keseimbangan ini. Publik menilai bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari simbol, gestur, dan keputusan yang mereka ambil. Ketika tokoh gereja atau tokoh publik menunjukkan sikap yang bijak, transparan, dan proporsional, mereka sedang membangun kepercayaan sosial.
Sebaliknya, jika tindakan mereka membuka ruang tafsir ganda, maka masyarakat mudah terbelah oleh prasangka.
Keteladanan bukan sekadar soal benar atau salah, tetapi soal kepekaan membaca dampak. Satu langkah yang tidak hati-hati bisa menimbulkan persepsi bahwa iman diperalat untuk kepentingan tertentu. Padahal, iman seharusnya menjadi sumber nilai yang memurnikan politik, menghadirkan kejujuran, keadilan, dan kepedulian, bukan sebaliknya, politik yang mengaburkan makna iman.
Karena itu, menjaga batas bukan berarti memisahkan iman dari kehidupan publik. Justru sebaliknya, iman hadir sebagai kompas moral yang menuntun sikap warga gereja dalam kehidupan sosial dan politik secara sehat. Gereja tetap bersuara tentang keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan bersama, tetapi tidak menjelma menjadi alat dukungan praktis kepada pihak tertentu.
Jika keseimbangan ini terjaga, maka gereja akan tetap dipercaya sebagai rumah spiritual yang mempersatukan, tokoh masyarakat menjadi teladan yang meneduhkan, dan masyarakat luas pun dapat melihat bahwa iman, akal sehat, serta tanggung jawab sosial berjalan seiring untuk kebaikan bersama.
- Penulis: Redaksi Beritamorut











































Saat ini belum ada komentar