Kisah Keluarga Mamala di Bulan Ramadhan
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
- visibility 26
- print Cetak

Ket: Dari Kiri ke kanan, Fauzan Mamala, Mukhlis Dg Mamala, Warda Dg Mamala, Ahmad Dg Mamala (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Bulan suci Ramadan selalu menjadi ruang terbaik untuk menanam kebaikan, memperkuat iman, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Di Morowali Utara, keluarga besar Mamala menghadirkan makna Ramadan bukan sekadar ibadah personal, tetapi juga gerakan nyata berbagi dan menebar manfaat bagi sesama.

Warda Dg Mamala, SE, menghadirkan rangkaian kegiatan bernuansa keislaman yang sarat nilai edukasi. Mulai dari pengajian yang menghadirkan ustad kondang sebagai pengingat pentingnya ilmu dalam mendekatkan diri kepada Allah, hingga lomba baca Al-Qur’an bagi anak-anak sekolah sebagai upaya menanamkan kecintaan terhadap kitab suci sejak dini.

Di kediaman pribadi, rumah jabatan Ketua DPRD, hingga Masjid Siti Rahma Berlian Mamala Resort, kegiatan ini menjadi pusat syiar Islam yang hidup.
Tidak hanya itu, semangat berbagi juga diwujudkan melalui pembagian takjil rutin setiap hari Jumat, buka puasa bersama yang mempererat ukhuwah, serta penyaluran hewan kurban berupa sapi untuk warga Kampung Bugis Kelurahan Kolonodale dan Kelurahan Bahoue. Ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan Ramadan akan lebih terasa ketika dirasakan bersama.

Sementara itu, Mukhlis Dg Mamala atau yang akrab disapa Haji Mus, menunjukkan teladan penting dalam menunaikan kewajiban zakat. Sebagai seorang muslim, zakat bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga perintah agama yang memiliki dimensi penyucian harta. Zakat mal sebesar 2,5 persen dari harta yang telah mencapai nisab dan haul menjadi bukti bahwa rezeki yang dimiliki sejatinya juga ada hak orang lain di dalamnya. Penyaluran 1.500 amplop THR untuk janda dan lansia, bantuan minuman lebaran, hingga dukungan pembangunan masjid menjadi bagian dari amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Ahmad Dg Mamala, S.Sos atau Haji Tonggong, memberi pelajaran bahwa kebaikan tidak selalu harus diumumkan. Dalam Islam, ada keutamaan sedekah yang dilakukan secara diam-diam, bahkan disebut lebih dekat kepada keikhlasan. Meski jarang terekspos, kiprahnya tetap dirasakan oleh masyarakat, mengingatkan bahwa nilai sebuah amal terletak pada niat, bukan sorotan.
Generasi muda pun turut mengambil peran. Muhammad Fauzan Ari Nugraha atau Fauzan Mamala membuktikan bahwa kesuksesan usaha bisa berjalan seiring dengan kepedulian sosial. Melalui PT. Mamala Muda Perkasa, ia membagikan 1.000 amplop THR dan parcel lebaran. Bahkan, penyediaan ambulans untuk masyarakat Kolonodale menjadi bentuk sedekah berkelanjutan yang sangat dibutuhkan karena dalam Islam, membantu satu nyawa seakan menyelamatkan seluruh manusia.

Kisah keluarga Mamala ini mengajarkan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbanyak amal, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Dari generasi ke generasi, nilai kebaikan itu terus diwariskan menjadi inspirasi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar