Guru Honorer MTS di Morut Tujuh Bulan Tidak Terima Gaji
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
- visibility 16
- print Cetak

Foto: Illustrasi guru honorer (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Morowali Utara – Para guru honorer di sejumlah Madrasah Tsanawiyah (MTS) di Kabupaten Morowali Utara (Morut), Sulawesi Tengah, mengeluhkan belum diterimanya gaji mereka selama tujuh bulan terakhir. Sejak Januari hingga pertengahan Juli 2025, para tenaga pendidik ini belum mendapatkan hak mereka, yang seharusnya dibayarkan oleh Kementerian Agama (Kemenag).
“Sejak bulan Januari sampai Juli ini kami guru honorer di MTS belum terima gaji. Gaji kami dari Kemenag,” ujar salah satu guru honorer yang enggan disebutkan namanya kepada media ini, Selasa (15/7/2025).
Keluhan ini menguak potret buram nasib guru honorer di lingkungan Kemenag, khususnya di daerah-daerah terpencil seperti Morowali Utara. Para guru yang selama ini tetap mengajar seperti biasa, harus menanggung beban ekonomi yang semakin berat akibat belum cairnya honor mereka.
“Kami tetap mengajar seperti biasa karena kami merasa tanggung jawab terhadap siswa, tapi jujur, secara ekonomi kami sudah sangat kesulitan,” lanjutnya. Ia menyebutkan bahwa beberapa rekannya bahkan harus mencari pekerjaan sampingan demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kondisi ini dikhawatirkan bisa mempengaruhi semangat dan kualitas pembelajaran di madrasah, mengingat beban psikologis para guru yang tidak kunjung menerima upah atas pekerjaan mereka.
Hingga berita ini ditayangkan, redaksi masih berupaya menghubungi pihak Kementerian Agama Kabupaten Morowali Utara untuk mengonfirmasi penyebab keterlambatan pembayaran honor guru honorer tersebut. Namun, belum ada tanggapan resmi dari pihak terkait.
Sementara itu, sejumlah pihak mendesak agar Kemenag segera memberikan penjelasan terbuka dan langkah konkret untuk menyelesaikan permasalahan ini. Pemerintah daerah juga diminta turut mendorong percepatan pencairan honorarium bagi para guru honorer yang menjadi tulang punggung pendidikan di madrasah.
“Pendidikan tidak akan berjalan tanpa peran guru, dan sudah seharusnya negara hadir memenuhi hak-hak dasar mereka. Tujuh bulan tanpa gaji bukan persoalan kecil,” kata salah satu pemerhati pendidikan di Morut.
Permasalahan ini menambah daftar panjang polemik guru honorer di Indonesia, yang kerap menjadi korban sistem penggajian yang lambat dan tidak transparan. Banyak dari mereka mengabdi dengan dedikasi tinggi, tetapi seringkali harus menerima kenyataan pahit terkait kesejahteraan mereka yang terabaikan.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar