Muhammad Safri: Data BPS Pertumbuhan Ekonomi Morut tidak Sesuai Realita
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
- visibility 26
- print Cetak

Foto: Muhammad Safri (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PALU—Angka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Morowali Utara (Morut) yang disebut mencapai 19,97 persen pada 2026 menuai kritik tajam.

Ket: Data BPS Sulteng 2026
Legislator DPRD Sulawesi Tengah, Muhammad Safri, menilai data yang disajikan oleh BPS Sulawesi Tengah tidak mencerminkan kondisi riil kesejahteraan masyarakat di lapangan.
Menurut Safri, tingginya angka pertumbuhan tersebut patut dipertanyakan, terutama jika tidak berbanding lurus dengan kehidupan ekonomi warga Morut saat ini.
“Iya, karena obral investasi—baik lahan sawit, tambang nikel, hingga batuan. Pertanyaannya, apakah pertumbuhan itu paralel dengan kondisi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat?” tegasnya. (25/3).
Ia mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah untuk tidak hanya bergantung pada metode survei resmi, tetapi juga menghadirkan verifikasi lapangan melalui lembaga independen.
“Kalau mau fair, turunkan tim survei ekonomi dari akuntan publik atau lembaga independen. Supaya nyata di lapangan, jangan hanya pakai metode survei BPS,” tambahnya.
Safri juga mengkritisi cara penyajian data pertumbuhan yang hanya menampilkan persentase tanpa memperlihatkan nilai riil (rupiah). Menurutnya, hal ini bisa menimbulkan bias persepsi.
Ia mencontohkan, suatu daerah dengan PDRB dari Rp10 triliun naik menjadi Rp14 triliun memang menunjukkan pertumbuhan tinggi secara persentase. Namun secara nilai, kenaikannya hanya Rp4 triliun.
Sebaliknya, daerah lain dengan basis ekonomi lebih besar—misalnya dari Rp54 triliun menjadi Rp65 triliun—secara persentase mungkin terlihat lebih kecil, tetapi kenaikan riilnya mencapai lebih dari Rp10 triliun.
Dampaknya terhadap ekonomi masyarakat pun dinilai jauh lebih signifikan karena efek bergandanya (multiplier effect) lebih besar.
“Jadi jangan hanya bicara persen. Nilai riil itu penting, karena di situlah terlihat dampak ekonomi ke masyarakat,” tegasnya.
Kritik ini mempertegas adanya jurang antara angka statistik dan realitas sosial. Di tengah klaim pertumbuhan tinggi, publik kini menunggu jawaban: apakah angka-angka tersebut benar-benar mencerminkan kesejahteraan, atau sekadar pertumbuhan di atas kertas?
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar