Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Mitos Soal Sungai Laa

Mitos Soal Sungai Laa

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Minggu, 8 Jun 2025
  • visibility 20
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Morowali Utara –Sungai Laa, salah satu sungai utama di Kabupaten Morowali Utara (Morut), bukan hanya bentang alam biasa. Ia menyimpan sejarah panjang sejak masa penjajahan, menjadi saksi bisu perjalanan masyarakat setempat, terutama komunitas nelayan tradisional yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan sungai tersebut.

Namun di balik perannya sebagai sumber kehidupan, Sungai Laa juga memiliki sisi lain yang perlu menjadi perhatian serius. Karakteristik aliran air yang deras dan rentan banjir dalam waktu lama bahkan bisa berlangsung berbulan-bulan membuatnya memiliki tingkat risiko tinggi terhadap keselamatan warga.

Banjir memang menjadi bagian dari siklus Sungai Laa. Uniknya, saat debit air meningkat, para nelayan justru menyebut hasil tangkapan meningkat. Namun kondisi tersebut juga meningkatkan potensi bahaya, khususnya bagi pengguna perahu kecil seperti katinting.

Selama beberapa tahun terakhir, tercatat sejumlah peristiwa yang melibatkan warga tenggelam atau hilang di kawasan Sungai Laa. Terbaru, Minggu 8 Juni 2025, seorang warga asal Bunta ditemukan meninggal dunia usai dilaporkan tenggelam di sungai ini.

Sebelumnya, pada 2 Maret 2024, seorang nelayan pencari meti asal Desa Onepute juga ditemukan meninggal setelah tiga hari pencarian. Pada Maret 2023, Tete Oyo, seorang warga yang dikenal luas oleh masyarakat Sampalowo, dilaporkan hilang dan diduga terakhir terlihat di sekitar Sungai Laa. Pada 2022, seorang wanita nekat melompat dari Jembatan Tompira, namun beruntung berhasil diselamatkan warga dan aparat.

Ada pula kejadian pada Desember 2021, ketika kapal katinting yang membawa dua warga asal Poso terbalik akibat pusaran air Sungai Laa di kawasan Desa Tiu. Satu orang selamat, sementara satu lainnya dinyatakan hilang. Dan akhirnya ditemukan meninggal dunia.

Cerita-cerita ini sering dikaitkan dengan mitos yang berkembang di tengah masyarakat, seperti anggapan bahwa Sungai Laa “meminta korban” setiap tahun. Dan bila sudah ada korban maka banjir akan turun, sekali lagi ini cuma mitos. Meskipun kepercayaan tersebut masih hidup dalam tradisi lisan, penting untuk memandang kejadian-kejadian tersebut melalui kacamata keselamatan dan tanggung jawab bersama.

Banyak dari insiden tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan peningkatan kewaspadaan, edukasi masyarakat, dan penyediaan sarana keselamatan yang memadai. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1. Peningkatan Kesadaran Masyarakat
Pemerintah desa dan kecamatan dapat menggandeng BPBD, TNI/Polri, dan komunitas nelayan untuk melakukan sosialisasi rutin mengenai keselamatan di perairan, khususnya saat musim hujan.

2. Penggunaan Alat Keselamatan
Setiap perahu sebaiknya dilengkapi dengan pelampung atau life jacket. Edukasi pemakaian alat keselamatan juga sangat penting.

3. Pemetaan Titik Rawan
Perlu dilakukan pemetaan dan pemasangan rambu peringatan di titik-titik yang memiliki arus kuat atau pusaran air yang berbahaya.

4. Layanan Darurat Cepat Tanggap
Penguatan pos SAR di wilayah Petasia dan sekitarnya akan sangat membantu dalam penanganan cepat jika terjadi insiden.

Sungai Laa akan selalu menjadi bagian dari identitas Morowali Utara, sumber kehidupan, sejarah, dan budaya. Namun sudah saatnya masyarakat bersama pemerintah memperkuat upaya edukasi dan keselamatan, agar sungai ini menjadi sahabat yang terus memberi, bukan tempat yang menyimpan duka.

Disclaimer: Mitos sering kali berfungsi sebagai pengingat penting nilai-nilai sejarah dan kepercayaan suatu masyarakat. Mitos dapat menjelaskan asal-usul dunia, fenomena alam, dan kehidupan manusia, serta mengajarkan pelajaran moral dan etika. Kematian tentunya adalah kehendak Sang Pencipta.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less