Ironi Pembangunan Jalan di Kabupaten Morowali Utara: Desa Terabaikan, Akses ke Villa Mulus
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
- visibility 24
- print Cetak

Foto: Kolase pembangunan jalan: Tinompo (kiri), Salubiro (kanan)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Ironi pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Morowali Utara (Morut) kian nyata di depan mata. Di tengah gencarnya wacana pembangunan, sekitar 60 persen jalan di daerah ini justru dilaporkan dalam kondisi rusak berat.
Di pedalaman Desa Salubiro, masyarakat bahkan harus memikul jenazah menempuh jarak yang jauh karena akses jalan tak bisa dilalui kendaraan. Medan yang berlumpur, berlubang, dan sulit dijangkau menjadi potret pahit wajah infrastruktur di wilayah pedesaan.
Tak jauh berbeda, akses menuju Kecamatan Petasia Barat, tepatnya di Desa Mondowe, juga dikeluhkan warga. Jalan yang licin dan rusak disebut sering menyebabkan pengendara terutama roda dua terjatuh. Kecelakaan demi kecelakaan terjadi, namun belum terlihat penanganan serius.
Keluhan juga datang dari warga Bimorjaya. Jalan daerah yang digunakan perusahaan sebagai jalur hauling kini kian rusak parah. Aktivitas kendaraan berat diduga mempercepat kerusakan, sementara masyarakat sekitar harus menerima dampaknya setiap hari.
Namun kontras terlihat di wilayah Tinompo. Aspal jalan menuju salah satu villa tampak mulus dan baru saja dikerjakan. Kondisi ini memicu tanda tanya dan kekecewaan warga.
“Kondisi pembangunan jalan di daerah kita sangat memprihatinkan. Jalan menuju villa diperbaiki. Tapi jalan di desa dicoret,” ungkap seorang warga, Rabu (25/2).
Situasi ini memunculkan persepsi ketimpangan prioritas pembangunan. Di satu sisi, akses masyarakat desa untuk kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi terhambat.
Di sisi lain, akses menuju fasilitas tertentu justru terlihat lebih diperhatikan.
Pembangunan jalan seharusnya berorientasi pada kepentingan publik luas, bukan hanya pada titik-titik tertentu yang menimbulkan kesan eksklusif. Infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, melainkan cerminan keadilan dan keberpihakan pemerintah terhadap rakyatnya.
Warga kini menanti jawaban dan langkah konkret. Sebab bagi mereka, jalan bukan soal mulus atau tidak—melainkan soal keselamatan, kemanusiaan, dan rasa keadilan.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar