Breaking News :
light_mode
Trending Tags

Hati Ibu Mana yang Tak Hancur, Anak Diduga Dipukul dan Disulut Rokok Senior di Tehnik Untad Palu

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 129
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PALU- Tiga korban penganiayaan mahasiswa Tehnik Arsitektur Untad Palu, yang terjadi pada hari Selasa, 6 Oktober 2026, didampingi oleh orang tua, dan perwakilan keluarga, bersama kuasa hukum dan LBH Sulteng, menyampaikan sejumlah ungkapan hati dan harapan mereka atas kasus tersebut. Kamis, 8 Oktober 2026.

Secara bergantian orang tua para korban menyampaikan kesedihan mereka atas kasus yang menimpa anaknya, justru terjadi di kampus yang begitu dibanggakan.

Momentum paling mengharukan terjadi saat ayah dan ibu mahasiswa inisial H bercerita. Marsel sang ayah dan Julidia Karolina Tarigan begitu sedih dan sudah dua kali membawa anaknya memeriksakan ke dokter, sebab ada rasa sakit yang terasa pada bagian kepala usai penganiayaan terjadi.

“Setelah pulang anak saya kepalanya rasa kurang enak, kami bawa ke dokter. Tapi memang bekas-bekas pukulan masih terasa sampai sekarang,”ujar Marsel ayah dari korban H.

Bukan hanya itu saja, korban H juga mengalami trauma yang berat, sehingga memutuskan tidak akan lagi ke kampus atau berhenti dari kuliah.

Sementara sang ibu, Julidia Karolina Tarigan, yang tiba tadi malam bersama ayahnya, tak kuasa menahan air matanya

“Sebagai ibu, tentu waktu saya lihat dia, saya menangis pak. Saya kenal anak saya. Bisa ditanya, dari manapun dia ini anak rumahan, dia itu bukan anak yang nakal, bukan anak yang arogan begitu. Makanya waktu saya tau anak saya seperti itu, tentu hati sebagai mama, saya nangis pak sepanjang jalan sampai ke Palu,”ujar Julidia Karolina Tarigan orang tua korban penganiayaan mahasiswa Tehnik Untad.

Korban H yang adalah anak pertama dari 2 bersaudara, mempunyai mimpi untuk kuliah di Tehnik Arsitektur Untad. Bahkan untuk mewujudkan mimpinya, anak ini tes pada tahun pertama gagal, ia kemudian tidak ingin memilih kampus lain, dan menunda kuliah, setelah itu lulus ditahun berikutnya masuk Tehnik Arsitektur Untad Palu.

Namun kampus yang menjadi kebanggaan yang seiring ia ceritakan kepada ayahnya, seolah menjadi tempat yang begitu menakutkan saat ini bagi H. Bahkan ia mengalami trauma yang berat. Dipukuli hingga tidak bisa lagi naik motor saat pulang.

Sejumlah luka lebam membiru dan bekas disulut asap rokok masih membekas. Sejak pukul 17.30 wita sampai pukul 22.00 wita atau sekitar 4 jam lebih H mengalami pemukulan secara bergantian oleh kakak tingkatnya. Beruntung orang tua dari korban lain inisial K datang menjemput anaknya, sehingga penganiayaan itu berhenti.

Kasus tersebut telah dilaporkan ke Polresta Palu dengan nomor laporan LP/B/1196/X/2026/SPKT/Polresta Palu.

Kuasa hukum ketiga korban, Jonathan Salam, MH dan direktur LBH Sulteng menyatakan akan mengawal kasus ini sampai tuntas.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less