Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Tiga Wartawan Berumur Tua, Berjiwa 17 Tahun, Bertugas di Morowali Utara. Kisah Om Rudi, Om Kael, dan Om Apri di Garis Liputan

Tiga Wartawan Berumur Tua, Berjiwa 17 Tahun, Bertugas di Morowali Utara. Kisah Om Rudi, Om Kael, dan Om Apri di Garis Liputan

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
  • visibility 17
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MORUT- Ditengah derasnya arus informasi digital dan cepatnya perubahan zaman, ada tiga sosok yang tetap setia berdiri di garis depan jurnalisme di Morowali Utara. Mereka bukan lagi anak muda dari sisi usia, namun semangatnya tak pernah menua.

Mereka adalah Rudi Andimari—yang akrab disapa Om Rudi, Mikael Sorisi (Om Kael), dan Apri Kelo (Om Apri).

Tiga nama yang mungkin tak selalu tampil di panggung besar, namun jejak pengabdiannya begitu dalam bagi dunia pers lokal.

Om Rudi, lahir 27 Maret 1955, adalah potret keteguhan itu sendiri. Jauh sebelum teknologi merambah ruang redaksi, ia sudah mengenal dunia pers sejak menjadi loper koran di Makassar pada tahun 1967. Dari sana, langkahnya tak pernah berhenti. Memasuki tahun 1970-an, ia resmi menjadi wartawan dan terus bertahan hingga lebih dari empat dekade.

Kini di usianya yang menginjak 71 tahun, semangatnya masih menyala seperti anak 17 tahun. Dengan motor tua yang setia menemaninya—hadiah dari seseorang di Morowali Utara—ia tetap turun ke lapangan, menyusuri jalanan demi sebuah berita.

Hidupnya sederhana, namun penuh makna. Dari kerja kerasnya, ia berhasil menyekolahkan empat anaknya hingga menjadi sarjana.

Bahkan, anak-anaknya kini telah menapaki jalan sukses: ada yang menjadi camat, kepala sekolah, kepala BPP, hingga kepala desa di Mangkutana, serta satu di antaranya pernah menjadi pramugari di Bali. Sebuah bukti bahwa perjuangan tak pernah mengkhianati hasil.

Tak jauh berbeda, Om Kael, kelahiran 8 Mei 1958, juga masih setia menjalani profesinya. Di usia 68 tahun, ia tetap hadir di berbagai liputan, tak ragu turun langsung ke lapangan. Ketekunannya menjadi cermin bahwa jurnalisme bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa.

Begitu pula Om Apri Kelo, lahir 18 April 1969. Di usia 57 tahun, ia masih aktif mengabarkan berbagai peristiwa, menjaga agar informasi tetap sampai ke masyarakat dengan jujur dan apa adanya.

Mereka bertiga adalah saksi hidup perjalanan pers di Morowali Utara. Di saat banyak yang memilih berhenti atau beralih, menjadikan profesi sebagai batu loncatan, mereka justru tetap bertahan. Menulis, meliput, dan menyampaikan kabar, tanpa banyak mengeluh.

Ada ketulusan dalam setiap langkah mereka. Ada pengabdian yang tak selalu terlihat, namun begitu terasa. Mereka bukan hanya wartawan, tetapi penjaga ingatan daerah ini.

Sebagai bagian dari insan pers yang tumbuh di Morowali Utara, ada harapan sederhana saya yang mendalam: semoga ada perhatian, penghargaan, dan kepedulian untuk para senior ini. Sebab dari tangan merekalah, banyak cerita daerah ini pernah dan terus hidup.

Mereka mungkin tak lagi muda. Tapi semangat mereka, akan selalu muda. Saya berdoa agar mereka selalu diberikan kesehatan.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less