Dana Desa dan Oknum Kades “Mokokato”
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
- visibility 4
- print Cetak

Ket: Foto Illustrasi Dana Desa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Dana desa itu ibarat air di gelas. Kalau gelasnya bersih dan orangnya tahu diri, airnya menyejukkan. Tapi kalau gelasnya retak dan yang pegang gampang tergoda, airnya bisa tumpah ke mana-mana, bahkan ke tempat yang tak seharusnya.
Tak sedikit kepala desa yang awalnya dilantik dengan sumpah jabatan, tapi di tengah jalan justru lupa arah. Dana desa yang semestinya untuk jalan tani, posyandu, dan lampu desa, malah berubah fungsi jadi bensin asmara.
Dari urusan administrasi, bergeser ke urusan hati, yang sayangnya bukan hati pasangan sah.
Di beberapa tempat, setiap kali muncul kabar kades tersandung hubungan gelap, masyarakat sudah bisa menebak kelanjutannya, “Biasanya ini bukan cuma soal cinta,” “Cek saja laporan keuangannya.”
Dan benar saja, selingkuh sering datang berpaket dengan penyelewengan anggaran. Seolah-olah integritas dan kesetiaan itu satu paket, kalau yang satu hilang, yang lain ikut kabur.
Orang Mori punya istilah pas: “Mokokato”. Sekali terjebak, bukan cuma rumah tangga yang goyah, tapi jabatan pun ikut oleng.
Dari kursi empuk kantor desa, bisa pindah ke kursi pemeriksaan. Dari dipanggil “Pak Kades”, berubah jadi “Saudara…”.
Padahal rumusnya sederhana: 👉 Dana desa + integritas = pembangunan 👉 Dana desa + nafsu = petaka
Maka, sebelum tergoda rayuan, sebaiknya para kades ingat:
uang desa itu bukan dana kencan, jabatan itu bukan tameng asmara, dan kepercayaan rakyat itu sekali rusak, susah ditambal.
Karena pada akhirnya, bukan selingkuhnya saja yang bikin malu, tapi saat rakyat bertanya: “Ini jalan desa rusak karena hujan, atau karena dana desa kehujanan cinta?”
- Penulis: Redaksi Beritamorut











Saat ini belum ada komentar