Demi Investasi, Suku Wana Kehilangan Warisan Leluhur
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Senin, 2 Jun 2025
- visibility 29
- print Cetak

Foto: Hutan kediaman Suku Wana yang mulai digusur (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Morowali Utara – Di tengah bentangan hutan lebat Kecamatan Mamosalato dan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, hidup sebuah komunitas adat yang masih memegang teguh tradisi leluhur mereka: Suku Tau Taa Wana, atau sering disebut “Suku Wana”. Nama mereka berarti “orang yang tinggal di hutan”, mencerminkan kehidupan yang menyatu dengan alam.
Suku Tau Taa Wana dikenal sebagai salah satu suku tertua di Sulawesi. Sejarah mereka dipercaya telah ada sejak 8.000 tahun lalu, pada masa Mesolithikum. Asal usul mereka ditelusuri dari kawasan sebelah tenggara Teluk Bone, dan melalui gelombang migrasi ribuan tahun sebelum Masehi, mereka menyebar hingga ke wilayah pegunungan Tokala dan hutan pedalaman Sulawesi Tengah.
Masyarakat Tau Taa Wana masih hidup dalam komunitas-komunitas kecil yang disebut Lipo, unit sosial yang terdiri atas beberapa keluarga dengan hubungan kekerabatan langsung. Mereka menjalani kehidupan yang sederhana dan berpola nomaden dengan sistem perladangan berpindah-pindah. Namun kini, pola itu telah berevolusi menjadi sistem rotasi ladang yang berulang dalam periode tertentu, tanpa lagi membuka hutan baru.
Mereka menanam padi dan hasil panen mereka terkenal berkualitas tinggi. Menariknya, bulir padi terbaik akan langsung dipilih dan diikat di kebun untuk kemudian disimpan sebagai cadangan pangan jangka panjang. Penjemuran padi dilakukan di atas sampe padi, struktur dari kayu berbentuk tiang-tiang yang dibuat di lokasi ladang. Terdapat pantangan adat: padi yang telah dijemur di sampe tidak boleh diturunkan sebelum benar-benar kering.
Suku Tau Taa Wana hidup dengan memegang teguh adat dan tradisi secara turun-temurun. Tempat-tempat sakral tetap dijaga dan dihormati. Sebagian dari mereka masih menutup diri dari pengaruh luar dan hidup tanpa afiliasi agama formal, meski mengakui dan meyakini kekuatan spiritual yang berakar pada animisme. Dalam keseharian, mereka mengandalkan nilai-nilai adat dan leluhur sebagai pedoman hidup.
Di desa Menyoe dusun Berangas, hidup Suku Wana Taa Barangas, sebagai simbol identitas kearifan lokal suku Wana yang terus dijaga. Namun kini, hadirnya investor di daerah tersebut, adanya perusahaan yang masuk wilayah mereka, bukan hanya menggusur tempat-tempat yang dikeramatkan dan sakral, tetapi hendak mengubur identitas yang terus mereka rawat sampai saat ini.
Dua situs sakral dari sembilan yang ada telah digusur perusahaan, bahkan kuburan Leluhur mereka pun tergusur, dua situs sakral dimaksud adalah Watanono dan Karatu, yang hingga kini masih dipercaya sebagai tempat suci oleh masyarakat adat.
Beberapa kelompok masyarakat bahkan masih ada yang menunjukkan respons trauma jika berhadapan dengan orang asing, terutama dari luar komunitas. Mereka akan segera menjauh atau melarikan diri, sebagai bentuk ketakutan yang diwariskan turun-temurun.
Seorang peneliti dari Belanda, A.C. Kryut dalam artikelnya yang berjudul “De To Wana op Oost-Celebes”(1930), menyebutkan sebagian imigrasi tersebut menyebar dan menjadi 4 kelompok suku yang memiliki dialek bahasa yang berbeda, yaitu: Suku Burangas, berasal dari Luwuk dan bermukim di kawasan Lijo, Parangisi, Winangabino, Uepakatu, dan Salubiro. Suku Kasiala, berasal, berasal dari Tojo Pantai Teluk Tomini dan Kemudian bermukim Di Manyo‟e, Sea, sebagian di Winangabino, Uepakatu, dan Salubiro. Suku Posangke, berasal dari Poso dan berdiam di kawasan Kajupoli, Toronggo, Opo, Uemasi, Lemo, dan Salubiro. Suku Untunue, mendiami Ue Waju, Kajumarangka, Salubiro, dan Rompi. Kelompok suku ini sampai sekarang masih menutup diri dari pengaruh luar.
Secara sosial dan ekonomi, kehidupan masyarakat Tau Taa Wana masih berada dalam kondisi memprihatinkan. Akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar sangat terbatas. Pola hidup mereka yang tradisional membuat banyak dari mereka belum tersentuh pelayanan pemerintah secara maksimal.
Meski demikian, keteguhan mereka menjaga identitas dan keberlanjutan budaya layak diapresiasi. Dalam keterbatasan, Suku Tau Taa Wana tetap mempertahankan jati diri mereka sebagai pewaris budaya yang hidup berdampingan dengan alam.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar