Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Serba Serbi » Warda Dg Mamala, Pengorbanan dan Ketulusannya dalam Politik

Warda Dg Mamala, Pengorbanan dan Ketulusannya dalam Politik

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 9
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Warda Dg Mamala, Pengorbanan dan Ketulusannya dalam Politik

Aristoteles menyebut politik sebagai ilmu paling mulia karena melalui politik seluruh cabang ilmu dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang menyejahterakan rakyat. Namun kemuliaan itu sering kali tergerus praktik kekuasaan yang jauh dari nilai-nilai etik.

Ditengah realitas tersebut, kepemimpinan Ketua DPRD Morowali Utara (Morut), Warda Dg Mamala, SE, menjadi contoh bagaimana politik dapat kembali pada tujuan luhur yang pernah digariskan para filsuf: melayani rakyat dengan nalar, kecakapan, dan hati nurani.

Warda menjalani agenda padat sebagai pimpinan tertinggi lembaga legislatif. Ketegasan ritme kerja dan kedisiplinannya tampak konsisten, namun yang justru paling menonjol adalah kemampuannya merangkul semua fraksi dan menyatukan berbagai kepentingan politik.

Setiap memasuki ruang Badan Anggaran maupun ruang rapat lainnya, ia bukan sekadar memimpin, tetapi menciptakan suasana dialog yang setara, cair, dan produktif, suatu kondisi yang menunjukkan bagaimana politik dapat dipraktikkan sebagai jalan persatuan, bukan perpecahan.

Kemampuan Warda menjembatani perbedaan membuat sekat-sekat politik di DPRD Morut melebur menjadi kerja kolektif. Anggota dari berbagai fraksi merasakan kehadirannya sebagai pemersatu yang menenangkan dan mengarahkan diskusi pada kepentingan rakyat, bukan kepentingan kelompok.

Sikap inklusif ini membuat proses pembahasan anggaran dan agenda strategis daerah berjalan lebih lancar, sembari menegaskan bahwa jabatan publik adalah amanah yang mengutamakan akal sehat sekaligus moralitas.

Nilai kemuliaan politik yang dijaga Warda tidak berhenti pada aspek kepemimpinan formal. Ia dikenal beberapa kali menggunakan dana pribadi untuk menutupi kebutuhan operasional lembaga ketika anggaran belum tersedia atau ketika kegiatan perlu dikerjakan cepat. Bahkan, ia menurunkan armada bisnis miliknya demi memastikan kegiatan tidak tertunda. Tindakan ini bukan pencitraan, melainkan bentuk pengorbanan pribadi yang lahir dari kesadaran bahwa pelayanan publik tidak boleh macet hanya karena kendala teknis.

Kepemimpinan yang menyatukan politik dan ketulusan itu membuat Warda dihormati lintas fraksi. Ia menunjukkan bahwa kemuliaan politik hanya dapat dijaga oleh pemimpin yang bekerja dengan nalar, kecakapan, dan hati nurani yang hidup.

Melalui ketegasan, humanisme, dan pengorbanan pribadi, Warda Dg Mamala membuktikan bahwa politik tidak harus menjadi arena perebutan kepentingan, tetapi dapat tetap menjadi ruang pengabdian sebagaimana yang dahulu dimaksudkan Aristoteles sebagai ilmu yang paling mulia.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less