Tiga Ambulans Mamala Group Bergerak di Hari yang Sama untuk Kemanusiaan Hingga ke Pedalaman
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 48
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MOROWALI UTARA – Kepedulian terhadap sesama kembali ditunjukkan melalui pergerakan tiga ambulans relawan dari Mamala Group yang menjalankan misi kemanusiaan pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Ketiganya bergerak di waktu dan lokasi berbeda, mulai dari menjemput ibu suku Wana yang kesulitan melahirkan di pedalaman Soyojaya hingga mengantar jenazah ke kampung halaman keluarga yang berduka.
Tiga ambulans tersebut masing-masing milik Ahmad Dg Mamala atau Haji Tonggong, Muh. Fauzan Ari Nugraha atau Fauzan Mamala, serta Mukhlis Dg Mamala atau Haji Mus.
Pertama, menjemput ibu suku Wana setelah ditandu sehari perjalanan.
Pertama, Ambulans relawan Haji Tonggong menjemput seorang ibu suku Wana yang mengalami kesulitan melahirkan di wilayah pedalaman Kecamatan Soyojaya, Minggu (11/10/2026).
Sebelum dijemput ambulans, ibu tersebut telah ditandu warga dari Dusun III Langada, Desa Tambayoli, menuju Kalae sejak sehari sebelumnya. Sulitnya akses jalan membuat perjalanan dari pedalaman itu harus ditempuh dengan berjalan kaki sambil memikul ibu yang membutuhkan pertolongan medis.
Setelah tiba di Kalae, ambulans relawan menjemput dan membawa ibu tersebut ke Puskesmas Tambayoli untuk mendapatkan penanganan medis.
“Iya, dari kemarin dipikul warga dan kami jemput di Kalae. Jalan menuju dusun pedalaman Langada memang susah dan jauh,” ujar Irfan, Koordinator Ambulans Relawan Haji Tonggong, Minggu (11/10/2026).
Peristiwa ini memperlihatkan kuatnya gotong royong masyarakat dalam membantu sesama. Namun, perjalanan panjang yang harus ditempuh seorang ibu untuk mendapatkan pertolongan persalinan juga menjadi pengingat bahwa akses pelayanan kesehatan di wilayah terpencil masih membutuhkan perhatian serius.
Kedua, menembus malam mengantar jenazah ke pedalaman Soyojaya.
Pada hari yang sama, sekitar pukul 20.00 WITA, ambulans relawan milik Muh. Fauzan Ari Nugraha atau Fauzan Mamala bergerak mengantar jenazah dari RSUD Kolonodale menuju wilayah pedalaman Kecamatan Soyojaya.
Di tengah gelapnya malam, ambulans tersebut menjalankan tugas kemanusiaan untuk membantu keluarga mengantarkan orang yang mereka cintai menuju tempat peristirahatan terakhir.
Bagi keluarga yang sedang berduka, keberadaan ambulans relawan menjadi bantuan penting, terutama ketika perjalanan menuju wilayah pedalaman membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.
Ketiga, menjemput jenazah warga Sipoyon di Pelabuhan Cina Kolonodale.
Misi kemanusiaan berikutnya dilakukan ambulans relawan milik Mukhlis Dg Mamala atau Haji Mus, ayah dari Fauzan Mamala.
Haji Mus, politisi Partai Golkar yang telah menjalani tiga periode, menyediakan ambulans yang bersiaga di wilayah Mori Utara untuk membantu masyarakat yang membutuhkan layanan kemanusiaan.
Pada Minggu malam, sekitar pukul 22.40 WITA, tim relawan menerima kabar duka mengenai seorang warga asal Sipoyon, Pantai Timur, yang meninggal dunia dalam perjalanan menuju RSUD Kolonodale.
Sebelumnya, warga tersebut hendak dirujuk menggunakan perahu dari Matube menuju RSUD Kolonodale. Namun, takdir berkata lain. Pasien meninggal dunia sebelum tiba di rumah sakit.
Ambulans relawan Haji Mus kemudian bergerak menuju Pelabuhan Cina Kolonodale untuk menjemput jenazah dan membantu mengantarkannya pulang ke kampung halaman.
Tiga ambulans, satu semangat kemanusiaan.
Tiga pergerakan ambulans Mamala Group dalam satu hari memperlihatkan bahwa pelayanan kemanusiaan tidak selalu berlangsung pada jam kerja atau di jalan yang mudah dilalui.
Ada ibu yang harus ditandu warga selama sehari untuk mendapatkan pertolongan medis. Ada keluarga yang membutuhkan bantuan mengantar jenazah menembus malam menuju pedalaman. Ada pula jenazah warga yang harus dijemput di pelabuhan setelah upaya rujukan melalui jalur laut berakhir dengan duka.
Di balik setiap perjalanan itu, terdapat keluarga yang membutuhkan bantuan, relawan yang harus bergerak, serta kendaraan yang menjadi penghubung antara mereka yang membutuhkan dan pertolongan yang bisa diberikan.
Kisah ini sekaligus mengingatkan bahwa pelayanan ambulans, khususnya bagi masyarakat di wilayah terpencil, bukan sekadar urusan kendaraan dan perjalanan. Ia menyangkut akses kesehatan, kemanusiaan, dan kepedulian terhadap warga yang berada dalam situasi sulit.
Bagi Mamala Group, tiga ambulans yang bergerak pada hari yang sama menjadi gambaran bahwa semangat membantu sesama harus tetap berjalan, baik siang maupun malam, di tengah keterbatasan akses maupun jauhnya jarak.
Sebab, dalam urusan kemanusiaan, setiap perjalanan memiliki arti bagi mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.
- Penulis: Redaksi Beritamorut

























































Saat ini belum ada komentar