Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Teluk Tomori Menjerit di Balik Tumpukan Sampah Plastik

Teluk Tomori Menjerit di Balik Tumpukan Sampah Plastik

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
  • visibility 11
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MORUT- Di balik birunya laut Teluk Tomori, ada luka yang tak lagi bisa disembunyikan. Tumpukan plastik mengapung, tersangkut di akar mangrove, dan terdampar di pasir yang seharusnya menjadi wajah indah Morowali Utara.

Ironis, di tengah peringatan Hari Peduli Sampah Nasional, laut kita justru menjadi saksi betapa abainya sebagian dari kita terhadap lingkungan.

Puluhan kilogram sampah anorganik berhasil dikumpulkan dalam aksi bersih. Angka itu bukan sekadar statistik, itu adalah potret nyata kebiasaan buruk yang terus dipelihara. Plastik-plastik itu tidak datang sendiri ke laut. Ia dibuang. Ia dialirkan lewat sungai. Ia dilepaskan tanpa rasa bersalah.

Plastik di laut bukan hanya soal kotor atau tidak sedap dipandang. Ia adalah racun yang perlahan bekerja. Ia terurai menjadi mikroplastik, masuk ke tubuh ikan, lalu kembali ke meja makan manusia. Ia menjerat biota laut, merusak ekosistem, dan mengancam mata pencaharian nelayan. Ia mengusir wisatawan yang datang mencari keindahan, bukan hamparan sampah.

Lebih menyakitkan lagi, kondisi ini terjadi di kawasan yang seharusnya menjadi kebanggaan daerah. Teluk Tomori bukan tempat pembuangan raksasa. Ia adalah warisan alam yang mestinya dijaga bersama.

Kurangnya kesadaran masyarakat menjadi tamparan keras bagi kita semua. Namun, persoalan tidak berhenti di sana. Ketiadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang memadai memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Jika hulu tak dibenahi, hilir akan terus menjadi korban.

Seruan 3R—reduce, reuse, recycle—tak boleh berhenti sebagai slogan seremonial. Ia harus menjadi kebiasaan. Sampah harus selesai di rumah, bukan berakhir di laut.

Teluk Tomori sedang menjerit. Pertanyaannya, apakah kita masih memilih untuk menutup telinga?

Jika hari ini kita tidak bergerak, maka yang akan kita wariskan bukan lagi laut biru yang indah, melainkan lautan plastik yang memalukan.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less