Opini: Semut Melawan Gajah, Kerja Jurnalis dalam Bayang-Bayang Cengkraman Kekuasaan
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
- visibility 15
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Opini: Semut Melawan Gajah, Kerja Jurnalis dalam Bayang-Bayang Cengkraman Kekuasaan
Oleh: Hendly Mangkali
Di tengah kemajuan teknologi informasi dan arus deras digitalisasi, kebebasan pers di Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Ibarat semut yang mencoba melawan gajah, para jurnalis kerap kali berada dalam posisi lemah saat harus berhadapan dengan kekuasaan yang represif. Ancaman kriminalisasi, intimidasi, dan sensor menjadi bayang-bayang yang terus mengintai kerja-kerja jurnalistik.
Kasus terbaru di sejumlah daerah menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Jurnalis yang mengungkap skandal korupsi, pelanggaran HAM, atau kebijakan publik yang merugikan masyarakat justru dibungkam melalui jerat hukum, intimidasi, kriminalisasi. Situasi ini menunjukkan masih rapuhnya perlindungan terhadap profesi jurnalis sebagai penjaga demokrasi.
Tak jarang, tekanan datang secara halus dalam bentuk intervensi pemberitaan, ancaman pemutusan kerja sama iklan dari pemerintah daerah, hingga serangan digital. Di ruang redaksi, keputusan editorial pun sering kali harus diambil dengan pertimbangan tekanan politik dan kepentingan ekonomi.
Kekuasaan menjadi kebablasan menghadapi kritik dari kerja-kerja jurnalis, sehingga upaya pembungkaman terhadap jurnalis seolah dibentuk melalui campur tangan kekuasaan.
Gambaran ketimpangan ini semakin nyata ketika aparat negara justru tidak melindungi jurnalis, melainkan menjadi bagian dari tekanan itu sendiri. Di beberapa kasus, aparat penegak hukum justru menjadi alat kekuasaan untuk membungkam kritik.
Gajah itu bisa menghancurkan semut kapan saja. Tapi justru karena itulah, semut harus bersatu. Kita tidak bisa mengandalkan perlindungan hukum saja. Solidaritas antarjurnalis dan publik adalah kunci,
Dalam konteks demokrasi yang sehat, kebebasan pers bukan hanya hak jurnalis, melainkan kebutuhan publik. Tanpa jurnalisme yang bebas dan independen, ruang publik akan didominasi narasi tunggal milik penguasa. Oleh karena itu, masyarakat perlu turut serta mendukung media yang berintegritas dan menolak praktik pemberangusan informasi.
Lembaga-lembaga pers pun didorong untuk memperkuat sistem perlindungan internal, mulai dari pendampingan hukum, pelatihan mitigasi risiko, hingga membangun jaringan advokasi lintas sektor.
Kerja jurnalis adalah kerja sunyi yang penuh risiko. Dalam dunia yang terus bergerak cepat dan penuh distorsi informasi, keberanian untuk terus menyuarakan kebenaran menjadi semakin penting. Meski hanya semut, ketika bersatu, mereka mampu melawan gajah,.bukan untuk menghancurkannya, tapi untuk menyeimbangkan langkahnya.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar