Menilai Pemimpin Ditengah Musibah dan Bencana yang Menyedihkan
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
- visibility 10
- print Cetak

Foto: Musibah dan Bencana yang menyedihkan (AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Ketika bencana datang, rakyat tidak hanya membutuhkan bantuan. Mereka membutuhkan kehadiran. Kehadiran seorang pemimpin yang berdiri di tengah mereka, bukan sekadar memberi instruksi dari kejauhan.
Bencana adalah momentum yang memperlihatkan kualitas kepemimpinan sesungguhnya. Dalam situasi darurat, keputusan harus cepat, tepat, dan berpihak pada keselamatan warga. Salah langkah sedikit saja, dampaknya bisa meluas—dari krisis lingkungan menjadi krisis kesehatan, sosial, bahkan kepercayaan publik.
Hujan deras yang mengguyur Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara, Selasa malam (24/02/2026) sekitar pukul 21.30 WITA, menyebabkan banjir di Desa Korololama dan Desa Korololaki. Luapan sungai merendam rumah warga. Data sementara mencatat 3 Kepala Keluarga dengan total 4 unit rumah terdampak. Meski air kini berangsur surut, pendataan kebutuhan mendesak masih terus dilakukan.
Namun persoalan di Morowali Utara tidak berhenti pada banjir.
Di Desa Bimorjaya, keluhan masyarakat soal jalan hauling yang rusak disebut-sebut sudah lama disuarakan. Jalan yang setiap hari dilalui warga itu mengalami kerusakan parah dan dinilai membahayakan keselamatan. Warga mempertanyakan respons dan langkah konkret dari pihak terkait. Bagi masyarakat, jalan bukan sekadar akses fisik, melainkan urat nadi ekonomi dan keselamatan mereka.
Di sisi lain, publik juga masih menyoroti kasus meninggalnya seorang pasien usai menjalani operasi amandel di RSUD Kolonodale. Peristiwa tersebut menjadi pukulan serius bagi kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan daerah. Penanganan yang transparan, evaluasi menyeluruh, serta tanggung jawab moral dan administratif menjadi hal yang sangat dinantikan publik.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya diuji oleh satu kejadian, tetapi oleh akumulasi persoalan yang muncul hampir bersamaan.
Pemimpin di daerah harus mampu membaca situasi secara menyeluruh. Menit ke menit perkembangan harus dipantau. Masalah infrastruktur, pelayanan kesehatan, hingga bencana alam tidak bisa ditangani secara parsial.
Semua membutuhkan respons cepat, komunikasi terbuka, dan keberanian mengambil keputusan.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya citra pemerintahan, melainkan keselamatan dan kepercayaan rakyat.
Bencana alam mungkin tidak bisa dicegah sepenuhnya. Namun lambannya respons, minimnya perhatian, dan kurangnya empati adalah hal yang bisa dihindari.
Di saat seperti inilah masyarakat menilai: apakah pemimpinnya benar-benar hadir, atau hanya terdengar suaranya tanpa pernah terlihat langkah nyatanya.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar