Mengenal Suku Wana, Penjaga Hutan dari Pedalaman
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Sabtu, 7 Jun 2025
- visibility 69
- print Cetak

Foto: Rumah Suku Wana (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT— Di kawasan pedalaman Provinsi Sulawesi Tengah bagian timur, terdapat sebuah komunitas adat yang dikenal dengan nama Suku Wana. Oleh masyarakat luar, mereka kerap disebut sebagai Tau Taa Wana, yang berarti “orang yang tinggal di kawasan hutan.” Namun, masyarakat Wana sendiri lebih memilih menyebut diri mereka sebagai Tau Taa atau “orang Taa”, merujuk pada bahasa yang mereka gunakan, yaitu bahasa Taa.
Suku Wana atau Suku To Wana di Morowali Utara adalah suku yang mendiami wilayah Kecamatan Bungku Utara dan Kecamatan Mamosalato dibagian pedalaman. Mereka dikenal sebagai salah satu suku tertua di Sulawesi, yang diperkirakan telah menghuni daratan Sulawesi sejak 8.000 tahun lalu.
Menurut cerita turun-temurun, leluhur masyarakat Wana dipercaya berasal dari langit dan turun ke bumi melalui tempat yang disebut Tundatana, sebuah wilayah di Kajumarangka. Kepercayaan ini menjadi bagian dari jati diri dan sistem keyakinan yang kuat dalam komunitas tersebut.
Sebagaimana suku-suku pedalaman lainnya, Suku Wana memiliki pandangan hidup yang erat kaitannya dengan keharmonisan alam dan penghormatan terhadap leluhur. Bagi mereka, tanah (tana poga‘a) adalah unsur paling penting karena diyakini sebagai ciptaan Tuhan yang disebut Pue, tempat leluhur mereka pertama kali hidup.
Selain tanah, pohon dan sungai juga menjadi unsur penting dalam kepercayaan mereka. Pohon seperti kaju kele‘i dan kaju paramba‘a dianggap sebagai ciptaan Tuhan yang berfungsi menjaga serta merekatkan tanah leluhur (tana ntautua). Ketiga elemen tersebut tanah, pohon, dan sungai disebut sebagai pangale, yaitu satu kesatuan ekosistem hutan yang harus dijaga. Kerusakan pada salah satu elemen tersebut diyakini dapat mengganggu keseimbangan dan mendatangkan bencana.
Suku Wana hidup di wilayah pegunungan dan pada masa lalu dikenal sebagai masyarakat nomaden yang enggan berinteraksi dengan dunia luar. Mereka sangat bergantung pada hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Rumah-rumah mereka dibangun dalam bentuk panggung setinggi 2 hingga 5 meter dari tanah, dengan dinding bambu dan atap dari daun rotan. Di tengah rumah terdapat perapian, tempat berkumpul dan tidur keluarga, dengan kaki didekatkan ke api untuk menghangatkan badan.
Dalam kesehariannya, mereka hidup dari hasil berladang dan berburu. Alat-alat yang mereka gunakan sebagian besar terbuat dari kayu dan bambu. Meski demikian, seiring perkembangan zaman, masyarakat Wana kini mulai berinteraksi dengan komunitas lain, terutama di daerah pesisir untuk kebutuhan sandang, garam, serta alat-alat logam. Mereka pun mulai menetap dan membentuk kampung secara administratif.
Mayoritas masyarakat Tau Taa Wana masih memegang teguh kepercayaan leluhur yang disebut Halek atau Khalaik. Dalam sistem kepercayaan ini, mereka mengakui keberadaan roh-roh penjaga alam yang diyakini mampu memberikan pertanda melalui gejala-gejala alam, seperti bencana. Tuhan dalam keyakinan mereka disebut Pue, dan sebagai bentuk penghormatan, masyarakat kerap memberikan sesajen atau Kapongo, berupa sirih, pinang, kapur, dan tembakau yang ditempatkan di sebuah “rumah kecil” setinggi 40 hingga 50 cm dari tanah.
Namun, saat ini sebagian masyarakat Wana telah memeluk agama-agama formal yang diakui secara nasional. Meski demikian, nilai-nilai kearifan lokal dan tradisi leluhur masih tetap menjadi bagian penting dari identitas mereka.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar