Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Makna Monumen Towinangku atau Tugu Matandau di Tinompo

Makna Monumen Towinangku atau Tugu Matandau di Tinompo

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
  • visibility 31
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MORUT – Tugu Matandau yang berdiri di Desa Tinompo, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara, menyimpan kisah heroik perlawanan masyarakat Mori terhadap kebijakan kerja rodi pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 1907, ketika pemerintah kolonial Belanda memaksakan kebijakan kerja rodi kepada masyarakat untuk pembangunan jalan.

Kebijakan tersebut memicu penolakan dari masyarakat setempat yang menilai kerja paksa itu sebagai bentuk penindasan.

Meski mendapat penolakan, pemerintah kolonial tetap berupaya menjalankan kebijakan tersebut. Para laki-laki yang dianggap potensial kemudian didata untuk dijadikan tenaga kerja rodi.

Dalam menjalankan rencana itu, Letnan Matthes memerintahkan 12 orang anggota tentaranya untuk tetap tinggal di lokasi dan menunjuk seorang kopral sebagai pemimpin. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke wilayah Pakambia bersama empat orang tentara yang diantar oleh Tadulako Lampeuno.

Setibanya di Pakambia, Letnan Matthes bertemu dengan para mia motu’u atau pemimpin adat. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan perintah agar para pemimpin adat bersama tokoh masyarakat Mori Atas datang ke Kolonodale untuk menyatakan ketaatan kepada pemerintah Hindia Belanda.

Setelah pertemuan tersebut, Matthes kembali menuju Kolonodale. Dalam perjalanan pulang, rombongan singgah di Kampung Ranoito pada 15 Juli 1907. Beberapa hari kemudian, tepatnya 18 Juli 1907, mereka bertemu dengan Letnan Dua Kies bersama pasukannya.

Kedatangan pasukan Belanda disambut dengan ramah oleh kepala kampung dan masyarakat setempat. Mereka dijamu dengan hidangan makan siang bahkan dipersilakan bermalam di kampung tersebut. Sikap santun dan keramahan masyarakat membuat pasukan Belanda tidak menaruh kecurigaan sedikit pun.

Pada 19 Juli 1907, suasana di Istana Matandau tampak ramai. Para laki-laki berkumpul untuk didata sebagai tenaga kerja rodi, sementara para perempuan sibuk menyiapkan hidangan untuk menjamu para tamu.

Namun situasi tiba-tiba berubah ketika Raja Marunduh Datu ri Tana meneriakkan pekikan “hio”. Seruan tersebut menjadi tanda dimulainya perlawanan.

Pekikan itu langsung disambut oleh rakyat yang berada di Matandau dengan tabuhan genderang perang.

Secara serentak rakyat menyerang pasukan Belanda menggunakan pedang dan parang. Dalam peristiwa tersebut, para prajurit Belanda tewas dan senjata mereka berhasil direbut oleh rakyat.

Satu-satunya orang yang tidak dibunuh adalah Lie Tiang Ang, juru bicara pemerintah Belanda yang diketahui memiliki hubungan dengan salah satu putra raja. Ia dicegah dari pembantaian karena dianggap tidak terlibat dalam penghinaan terhadap raja.

Meski demikian, Lie Tiang Ang tetap ditahan sementara di istana kerajaan. Penahanan itu dilakukan bukan hanya demi keselamatannya, tetapi juga untuk mencegah agar kabar pembunuhan pasukan Belanda tidak segera tersebar.

Sebagai bentuk penghormatan atas peristiwa heroik tersebut, kisah perlawanan rakyat Mori kemudian diabadikan melalui Monumen Towinangku atau yang dikenal sebagai Tugu Matandau yang berada di Desa Tinompo, Kecamatan Lembo.

Monumen tersebut hingga kini menjadi pengingat sejarah keberanian masyarakat Mori dalam menolak penindasan dan mempertahankan martabat mereka dari kebijakan kerja paksa pemerintah kolonial Belanda.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less