Generasi Muda Bungku Utara Kecam Kericuhan di Lapangan Hijau Baturube
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
- visibility 13
- print Cetak

Foto: Pemain Tokala Atas kejar wasit (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bungku Utara– Generasi Muda Bungku Utara menyuarakan keprihatinan mendalam atas kericuhan yang berulang kali terjadi di Lapangan Hijau Baturube. Mereka menilai lapangan yang seharusnya menjadi ruang silaturahmi dan sportivitas justru sering ternodai aksi kekerasan.
Kericuhan terjadi dalam laga final Pordes yang mempertemukan tim Tokala Atas vs Uewajo. Peluit babak kedua dimulai baru beberapa menit terjadi pelanggaran dikotak terlarang. Ini memicu perselisihan antara pemain Tokala Atas yang berujung mengejar wasit. Panitia menghentikan pertandingan dua Tim dinyatakan sama-sama juara.
Fenomena kericuhan ini membuat sejumlah pemuda angkat bicara. Dalam pernyataan sikap resmi yang disampaikan Abdul Majid Jauhari, para pemuda mengecam keras keributan yang kerap muncul di turnamen sepak bola di Baturube. Menurut mereka, provokasi, bentrok antar pemain maupun penonton, hingga aksi kekerasan mencoreng martabat olahraga di Morowali Utara.
“Budaya kekerasan bukanlah warisan yang layak diteruskan. Sepak bola harus menjadi pemersatu, bukan pemecah belah,” tegas Abdul Majid. (1/10)
Generasi Muda Bungku Utara menyampaikan tiga tuntutan penting:
1. Penyelenggaraan turnamen yang lebih profesional, tertib, dan transparan.
2. Peran aktif aparat keamanan dan pemerintah kecamatan dalam menjaga ketertiban.
3. Kesadaran kolektif pemuda untuk menjunjung tinggi sportivitas dan persaudaraan.
Mereka berharap ke depan olahraga di Baturube bisa kembali menjadi kebanggaan, bukan arena kericuhan. “Mari kita buktikan bahwa olahraga mampu melahirkan solidaritas, prestasi, dan kebanggaan, bukan luka akibat ego sesaat,” pungkas Abdul Majid.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar