Breaking News :
light_mode
Trending Tags

Dero Bukan Sekadar Goyang Pesta, Ada Potensi Industri Musik yang Butuh Perhatian Pemerintah

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month 3 jam yang lalu
  • visibility 73
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dero Bukan Sekadar Goyang Pesta, Ada Potensi Industri Musik yang Butuh Perhatian Pemerintah

Oleh: Rony Sandhi – Ketua Ikatan Generasi Muda Pamona Poso (IGMPP)

Musik Dero bukan sekadar hiburan. Ia telah menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah. Dari pesta pernikahan, perayaan hari ulang tahun daerah, hajatan keluarga, hingga berbagai kegiatan masyarakat, musik dan tarian ini hampir selalu mendapat tempat tersendiri.

Namun, di tengah popularitasnya yang terus berkembang, muncul sebuah pertanyaan penting: Sudahkah pemerintah daerah melihat Dero sebagai kekayaan budaya sekaligus potensi ekonomi kreatif yang layak dikembangkan secara serius?

Dero dikenal sebagai musik dan tarian tradisional yang berasal dari masyarakat Suku Pamona, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Seiring perjalanan waktu, kesenian ini mengalami transformasi.

Dari yang awalnya diiringi alat musik tradisional seperti gendang dan gong, dengan nyanyian bersama sebagai musik tradisional suku yang ada di Kabupaten Poso, kini Dero berkembang mengikuti kemajuan teknologi dan industri musik modern.

Pada era 1990-an, lagu-lagu Dero mulai dikenal luas melalui kaset pita yang diputar menggunakan tape. Salah satu yang ikut memopulerkan musik ini adalah label Pamona Record yang bermarkas di Kota Tentena, Kabupaten Poso.

Perjalanan Dero tidak berhenti pada kaset pita. Ketika teknologi berkembang, format VCD mulai menggantikan kaset. Musik dan penyanyi Dero pun semakin mudah dinikmati masyarakat melalui layar televisi di rumah-rumah.

Kini, perkembangan teknologi digital membawa Dero ke ruang yang lebih luas. Lagu-lagunya dapat ditemukan di YouTube, sementara pertunjukan musik Dero dengan iringan organ tunggal atau keyboard semakin marak ditayangkan melalui Facebook, TikTok, dan berbagai platform media sosial lainnya.

Artinya, Dero telah melewati beberapa generasi teknologi, dari kaset pita, VCD, hingga era digital. Sebuah perjalanan panjang yang menunjukkan bahwa musik ini memiliki daya tahan sekaligus basis penggemar yang tidak kecil.

Dari hiburan rakyat menuju fenomena lintas daerah
Dalam perjalanan musik Dero, sejumlah penyanyi turut memberikan warna dan popularitas tersendiri.

Nama Imeda To’umbo dan Vita Adjalim, misalnya, dikenal sebagai dua sosok perempuan yang kerap disebut sebagai Diva Musik Dero.

Selain mereka, ada pula Yollanda Padati, Sindy Bambarehi, Bunda Fitri, Feni Toheba, serta sejumlah penyanyi dan pemain musik pria seperti Apri To’umbo, Agris To’umbo, Arnold, Dance, dan banyak nama lainnya.

Kehadiran para penyanyi dan pemain musik ini ikut menjaga eksistensi Dero, sekaligus membuatnya terus berkembang mengikuti selera masyarakat.

Menariknya, Dero kini tidak lagi hanya dinikmati masyarakat Pamona atau warga Kabupaten Poso. Dari penelusuran di berbagai platform media sosial, antusiasme terhadap musik dan tarian ini terlihat telah menjangkau berbagai wilayah di Sulawesi Tengah.

Mulai dari Kabupaten Sigi, Donggala, Parigi Moutong, Banggai, Tojo Una-Una, Morowali, Morowali Utara, hingga daerah lainnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Dero telah melampaui batas komunitas asalnya. Musik yang berakar dari tradisi masyarakat Pamona tersebut kini menjadi salah satu hiburan yang diterima oleh beragam kalangan masyarakat di Sulawesi Tengah.

Bahkan, undangan untuk mengisi acara pernikahan, hajatan, perayaan HUT kabupaten, kota, desa, hingga acara keluarga dan perorangan menjadi ruang tersendiri bagi tumbuhnya aktivitas ekonomi para pelaku musik Dero.

Di sinilah kita perlu melihat Dero bukan hanya sebagai kesenian, tetapi juga sebagai potensi ekonomi kreatif daerah.

Pemerintah jangan hanya hadir saat festival budaya
Pertanyaannya, sejauh mana perhatian pemerintah daerah terhadap perkembangan musik Dero?

Jangan sampai pemerintah hanya menjadikan kesenian tradisional sebagai pelengkap acara seremonial dan festival budaya, tetapi abai terhadap kebutuhan para pelaku seni yang setiap hari bekerja menjaga eksistensinya.

Padahal, jika dikelola secara serius, musik Dero memiliki peluang untuk berkembang menjadi industri musik lokal. Mulai dari penyanyi, pencipta lagu, pemain musik, produser, studio rekaman, videografer, hingga pelaku pertunjukan dapat terlibat dalam satu ekosistem ekonomi kreatif.

Pemerintah daerah, khususnya dinas yang membidangi kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif, perlu mulai memikirkan langkah konkret.

Misalnya, memberikan ruang promosi bagi musisi Dero, memfasilitasi produksi dan distribusi karya, mengadakan festival musik Dero secara berkelanjutan, memberikan edukasi mengenai hak cipta, serta membantu para pencipta lagu dan pelaku musik mendapatkan perlindungan hukum atas karya mereka.

Kita bisa belajar dari perkembangan musik Timur yang dalam beberapa tahun terakhir semakin dikenal di panggung nasional. Sejumlah musisi dari kawasan Indonesia Timur mampu membawa warna musik daerah ke industri musik yang lebih luas.

Tentu, perjalanan setiap genre musik memiliki karakter dan tantangannya sendiri. Namun, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa musik lokal memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh ketika didukung kreativitas, kualitas produksi, promosi, dan ekosistem industri yang memadai.

Mengapa Dero tidak bisa memiliki peluang serupa?
Mengapa lagu-lagu Dero hanya ramai di panggung-panggung hajatan dan media sosial, tetapi belum memiliki ruang pengembangan yang lebih terstruktur untuk menembus industri musik nasional?

Pertanyaan ini menjadi bahan refleksi bersama. Sebab, potensi yang besar tidak akan berkembang maksimal jika hanya mengandalkan kreativitas para pelaku seni tanpa dukungan ekosistem yang memadai.

Jangan sampai kekayaan budaya sendiri luput dari perlindungan
Ada satu hal lain yang tidak kalah penting, yakni perlindungan terhadap identitas budaya dan hak kekayaan intelektual.

Di tengah perkembangan musik Dero yang semakin luas, persoalan hak cipta, kepemilikan lagu, dokumentasi sejarah, serta pengakuan terhadap asal-usul kesenian perlu mendapat perhatian.

Jangan sampai para pencipta lagu dan pelaku seni justru tidak mendapatkan perlindungan atas karya mereka sendiri. Jangan pula sampai kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang di daerah ini kehilangan identitas atau pengakuan karena tidak didokumentasikan dan dilindungi sejak dini.

Pemerintah bersama komunitas adat, seniman, akademisi, dan pelaku industri kreatif perlu duduk bersama untuk memetakan, mendokumentasikan, serta memperkuat perlindungan terhadap musik dan tarian Dero.

Sebab, menjaga budaya bukan hanya soal mempertahankan gerakan tarian atau alat musik tradisional. Menjaga budaya juga berarti memastikan para pelaku seni memiliki ruang untuk berkarya, mendapatkan penghargaan, dan memperoleh manfaat ekonomi dari karya mereka.

Dero harus melangkah lebih jauh
Popularitas Dero hari ini seharusnya menjadi momentum bagi Sulawesi Tengah untuk berpikir lebih jauh.

Jangan puas hanya karena musik ini ramai di acara pesta atau viral di media sosial.
Dero memiliki sejarah, basis penggemar, pelaku seni, serta pasar pertunjukan yang telah terbentuk. Semua itu merupakan modal awal untuk membangun sebuah industri musik daerah.

Kini yang dibutuhkan adalah keseriusan dalam membangun ekosistemnya.
Sudah saatnya Dero tidak hanya dikenal sebagai musik dan tarian masyarakat Pamona, tetapi juga menjadi salah satu identitas budaya Sulawesi Tengah yang diperkenalkan lebih luas ke Indonesia, bahkan dunia.

Sebab, sebuah budaya tidak cukup hanya diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya juga harus dikembangkan, dilindungi, dan diberi kesempatan untuk tumbuh menjadi kekuatan ekonomi masyarakatnya sendiri.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi apakah masyarakat Sulawesi Tengah menyukai musik Dero. Popularitasnya sudah terlihat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah, Apakah pemerintah daerah siap menjadikan Dero sebagai kebanggaan budaya sekaligus kekuatan industri kreatif Sulawesi Tengah?***

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less