Breaking News :
light_mode
Trending Tags

Belajar dari Lembontonara, Desa yang Merawat Persaudaraan

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 64
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MOROWALI UTARA – Di tengah kehidupan masyarakat yang kerap dihadapkan pada perbedaan pandangan, kepentingan, dan pilihan, Desa Lembontonara, Kecamatan Mori Utara, Kabupaten Morowali Utara (Morut), menghadirkan pelajaran penting tentang arti menjaga persaudaraan.

Desa ini bukan sekadar tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari. Lembontonara mengusung visi EMAS, yakni Elok, Maju, Agamis, dan Sejahtera, sebuah cita-cita yang tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat hidup rukun, saling menghargai, dan mengutamakan musyawarah.

Di Lembontonara, kesejukan kehidupan bermasyarakat menjadi nilai yang patut dipelajari. Perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menjauh, apalagi memutus hubungan persaudaraan. Sebaliknya, setiap persoalan perlu ditempatkan dalam ruang dialog, dibicarakan dengan kepala dingin, dan dicari jalan keluarnya melalui musyawarah.

Sebab, kemajuan sebuah desa tidak hanya diukur dari pembangunan jalan, gedung, atau fasilitas umum. Ada hal yang jauh lebih mendasar, yakni kemampuan masyarakat menjaga kerukunan, merawat kepercayaan, dan mempertahankan rasa kebersamaan di tengah berbagai perbedaan.

Hal menarik lainnya, Desa Lembontonara mengelola Pendapatan Asli Desa (PAD) untuk menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat. Di antaranya, bantuan tali asih bagi warga yang sakit hingga ketika ada warga yang meninggal dunia.

Desa ini juga memiliki program satu rumah satu sarjana. Sebuah ikhtiar yang menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari masa depan keluarga dan kemajuan generasi berikutnya.

Program-program tersebut memperlihatkan bagaimana desa dapat berupaya menghadirkan pembangunan yang menyentuh kebutuhan sosial masyarakat. Bukan hanya membangun wilayah, tetapi juga memperkuat kepedulian terhadap sesama.

Transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa turut menjadi bagian penting dari kehidupan bermasyarakat di Lembontonara. Keterbukaan merupakan fondasi untuk membangun kepercayaan, sebab pemerintahan yang dipercaya akan lebih mudah mengajak masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan.

Di sinilah makna ungkapan di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung menemukan relevansinya. Setiap orang perlu menghormati nilai, adat, dan kebiasaan masyarakat setempat, tanpa kehilangan semangat untuk hidup berdampingan secara damai.

Menjaga persaudaraan bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama. Persaudaraan justru diuji ketika muncul perbedaan. Apakah perbedaan pendapat itu diselesaikan melalui musyawarah, atau malah dipelihara hingga menjadi pertentangan yang berkepanjangan?

Lembontonara mengingatkan bahwa kehidupan desa yang damai membutuhkan kesediaan untuk saling mendengar, menghormati, dan menempatkan kepentingan bersama di atas ego pribadi maupun kelompok.

Atas berbagai upaya pembangunan dan pemberdayaan masyarakat tersebut, Desa Lembontonara menjadi wakil Sulawesi Tengah dalam lomba desa tingkat regional tahun 2026.

Keikutsertaan itu bukan hanya tentang membawa nama daerah ke tingkat regional, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan praktik kehidupan desa yang mengedepankan kebersamaan, kepedulian sosial, dan tata kelola pemerintahan yang terbuka.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari Lembontonara bukan semata-mata tentang bagaimana sebuah desa meraih prestasi, melainkan bagaimana masyarakatnya terus berupaya menjaga persaudaraan.

Sebab, desa yang maju bukan hanya desa yang memiliki pembangunan yang baik, tetapi juga desa yang warganya tetap saling menyapa, saling membantu ketika kesulitan, dan tidak membiarkan perbedaan meruntuhkan hubungan kekeluargaan.

Pembangunan dapat dilihat dari apa yang berdiri di atas tanah. Namun, keberhasilan menjaga persaudaraan terlihat dari bagaimana manusia memperlakukan sesamanya.

Dari Lembontonara, kita belajar: membangun desa membutuhkan anggaran dan perencanaan, tetapi merawat persaudaraan membutuhkan hati, kebijaksanaan, dan kemauan untuk terus hidup bersama.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less