Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Sebelum Bulan Ramadhan, Perangkat dan Kades di Morut Sudah “Puasa Gajian” Sejak Januari

Sebelum Bulan Ramadhan, Perangkat dan Kades di Morut Sudah “Puasa Gajian” Sejak Januari

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
  • visibility 6
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MORUT — Menjelang Hari Raya Idul Fitri yang biasanya identik dengan THR, baju baru, dan hidangan melimpah, para perangkat dan kepala desa di Morowali Utara justru harus menghadapi realita yang agak “pahit”: sudah tiga bulan belum menerima gaji.

Alih-alih kabar baik, yang datang justru permohonan maaf dari Dinas Keuangan. Lewat pesan yang beredar di grup desa sejak Senin (16/3/2026), disampaikan bahwa pembayaran Siltap dan tunjangan kemungkinan besar baru bisa dilakukan setelah lebaran. Iya, setelah… bukan sebelum.

Pesan itu disampaikan langsung oleh penanggung jawab di dinas keuangan, Maya Montiley, yang dengan nada sopan dan penuh permohonan maaf menyebutkan bahwa “belum ada sumber dana” untuk pembayaran.

“Assalamualaikum, selamat pagi..Bpk/Ibu teman”, untuk pembayaran Siltap dan Tunjangan kayanya akan tertunda.. soalnya sampai skrg, blom ada sumber dana untuk pembayarannya.. kemungkinan habis lebaran..mohon maaf yg sebesar besarnya..minal Aidin Wal Faiizin..Mohon maaf lahir dan batin.. selamat menyambut hari Raya kemenangan..Idul Fitri 1447 H,”tulis Maya Montiley dalam Group kades/Bendahra /operator Desa. Senin 16 Maret 2026.

Kalau sudah begini, bukan cuma masyarakat yang harus berhemat, aparat desa pun ikut latihan hidup sederhana. Bedanya, ini bukan program penghematan, tapi lebih ke “terpaksa prihatin”.
Salah satu kepala desa bahkan mengaku sudah tiga bulan “puasa gaji”. Bedanya dengan puasa Ramadan, yang ini tidak jelas kapan waktunya berbuka.

“Biasanya menjelang lebaran kita sibuk mikir THR warga, sekarang malah mikir dapur sendiri,” ujar salah satu kadee setengah bercanda, setengah curhat.

Situasi ini tentu memantik pertanyaan besar soal tata kelola keuangan daerah.
Bagaimana mungkin gaji aparat desa—yang merupakan ujung tombak pelayanan masyarakat—bisa tertunda hingga berbulan-bulan, bahkan di momen krusial seperti lebaran?

Kalau istilahnya, ini bukan lagi “menunda kesenangan”, tapi “menunda kebutuhan pokok”.

Di tengah ucapan “Minal Aidin Wal Faidzin” yang mulai berseliweran, para perangkat desa mungkin hanya bisa menambahkan satu kalimat lagi dalam hati:
“Mohon maaf lahir batin… gaji kami masih di jalan.”

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less