Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Serba Serbi » Opini: Morowali Utara: Kaya di Peta, Rapuh di Kas Daerah?

Opini: Morowali Utara: Kaya di Peta, Rapuh di Kas Daerah?

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
  • visibility 14
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Opini: Morowali Utara: Kaya di Peta, Rapuh di Kas Daerah?
Penulis: Om Hendly

Ada sesuatu yang terasa ganjil di balik cerita tentang keuangan daerah di Kabupaten Morowali Utara.

Sebuah daerah yang selama ini dielu-elukan sebagai tanah kaya, tanah yang di dalam perut buminya tersimpan nikel, hutan, dan harapan masa depan industri. Namun di permukaan, cerita yang beredar justru berbeda.

Para kontraktor mulai gelisah.
Proyek telah selesai sejak tahun anggaran 2025, pekerjaan tuntas, laporan rampung, namun pembayaran masih menggantung di udara, seperti janji yang berulang kali diucapkan tetapi belum juga ditepati.

Menjelang Lebaran, sebagian dari mereka bahkan mengaku tidak mampu membayar Tunjangan Hari Raya kepada pekerja. Padahal tangan-tangan para pekerja itulah yang membangun jalan, jembatan, dan fasilitas yang kini digunakan masyarakat.

Ironis.

Di satu sisi, Morowali Utara sering disebut sebagai salah satu dari tiga kabupaten terkaya di Sulawesi Tengah bersama Banggai dan Morowali.

Nama Morowali Utara bahkan telah lama bergema dalam peta industri nasional. Kawasan ini sering disebut sebagai masa depan ekonomi berbasis Nasional.

Namun di sisi lain, ada cerita yang lebih sunyi:
pejabat daerah yang berbicara lirih tentang kondisi keuangan yang sedang tidak baik-baik saja.

Mereka tidak banyak bicara.
Hanya berharap dan berdoa agar semuanya segera membaik.

Beberapa tahun lalu, optimisme begitu besar. Pada tahun 2022, Pemerintah Kabupaten Morowali Utara bahkan membuka kantor perwakilan investasi di Batam. Sebuah langkah yang menunjukkan ambisi besar untuk memperkenalkan potensi daerah ke dunia internasional.

Penandatanganan kerja sama dengan International Business Association (IBA) menjadi simbol bahwa Morowali Utara ingin berdiri di panggung global.

Nama daerah ini diperkenalkan kepada investor, bahkan penjajakan potensi dilakukan bersama pihak luar negeri.

Kepastian itu tertuang dalam naskah kerjasama yang ditandatangani oleh Pemda dengan Ketua International Business Assosiation (IBA) Shan Shan.

Penandatanganan ini turut disaksikan Peter Coney selaku Direktur Pure Project Australia.

Keikutsertaan Peter ini bertujuan untuk melakukan penjajakan terhadap potensi investasi yang ada di Morut.

Lebih jauh lagi, pada tahun 2020, tanah Mori di Sulawesi Tengah sempat diperkenalkan kepada dunia oleh Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi saat itu, Luhut Binsar Pandjaitan, kepada Putra Mahkota Uni Emirat Arab.

Bayangkan.

Nama sebuah wilayah di Morowali Utara sampai dibicarakan di lingkaran elite dunia.
Seolah memberi pesan bahwa masa depan daerah ini begitu cerah, begitu menjanjikan.

Tanah Mori seakan menjadi simbol harapan baru.
Namun kenyataan di dalam rumah sendiri sering kali tidak seindah cerita yang dipresentasikan di ruang pertemuan investor.

Fakta lain yang tak bisa diabaikan adalah keputusan pemerintah daerah pada tahun 2022 untuk mengambil pinjaman melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebesar 200 miliar rupiah.

Pinjaman itu tentu bukan tanpa alasan.
PEN memang dirancang untuk membantu daerah mempercepat pembangunan di tengah tekanan ekonomi.

Namun pinjaman tetaplah pinjaman.
Ia harus dikembalikan, dengan bunga yang harus dibayar setiap tahun.

Pertanyaannya menjadi sederhana, tetapi penting:

jika daerah yang disebut kaya ini masih harus berutang ratusan miliar, apakah benar fondasi keuangan daerah kita sudah cukup kuat?

Atau jangan-jangan, kekayaan Morowali Utara selama ini lebih banyak terlihat di laporan potensi, bukan pada kekuatan kas daerah?

Morowali Utara memang kaya.
Kaya sumber daya alam.

Kaya potensi investasi.
Kaya cerita tentang masa depan industri.

Tetapi kekayaan sumber daya tidak selalu berarti kekayaan fiskal.
Sering kali yang terjadi di banyak daerah penghasil sumber daya adalah paradoks klasik:
tanahnya kaya, tetapi keuangan pemerintahnya tetap terbatas.

Tambang menghasilkan triliunan rupiah nilai ekonomi, tetapi tidak semuanya masuk ke kas daerah. Sebagian besar mengalir ke pusat, ke perusahaan, ke rantai industri yang panjang.
Yang tersisa di daerah sering kali hanyalah sebagian kecil dari nilai besar yang dihasilkan bumi mereka sendiri.

Jika benar kondisi keuangan Morowali Utara sedang sulit, maka ini bukan sekadar persoalan angka dalam laporan keuangan.
Ini adalah persoalan tata kelola.

Ini adalah pertanyaan tentang bagaimana sebuah daerah yang begitu kaya sumber daya bisa mengalami kesulitan membayar kewajiban dasar seperti proyek pemerintah dan gaji perangkat desa.

Apakah perencanaan anggaran sudah tepat?

Apakah belanja daerah sudah benar-benar efisien?

Apakah utang daerah telah dikelola dengan perhitungan matang?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting, bukan untuk menyalahkan siapa pun, tetapi untuk memastikan bahwa masa depan Morowali Utara tidak dibangun di atas optimisme semata.

Karena pada akhirnya, kekayaan sebuah daerah tidak diukur dari seberapa sering namanya disebut dalam forum investasi.

Kekayaan daerah yang sesungguhnya terlihat dari hal-hal sederhana:
ketika proyek selesai tepat waktu dan dibayar tepat waktu,
ketika perangkat desa menerima hak mereka tanpa harus menunggu,
ketika pemerintah daerah mampu berdiri dengan keuangan yang sehat.

Morowali Utara terlalu berharga untuk sekadar menjadi cerita tentang potensi.

Tanah ini sudah dikenal dunia.
Sekarang saatnya memastikan bahwa kemakmurannya juga benar-benar dirasakan oleh masyarakatnya sendiri.
Jika tidak, maka Morowali Utara akan terus berada dalam ironi:
sebuah tanah yang sangat kaya, tetapi selalu terdengar seperti sedang kekurangan.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less