Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Serba Serbi » Opini; Partai Gerindra Morut, Bertukar atau Bermanuver?

Opini; Partai Gerindra Morut, Bertukar atau Bermanuver?

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
  • visibility 6
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Opini; Partai Gerindra Morut, Bertukar atau Bermanuver?

Penulis: Om Hendly

Di Balikpapan, di tengah deru mesin kilang dan aroma politik kekuasaan, Presiden Prabowo Subianto melontarkan satu kalimat sederhana namun sarat makna: friend, friend. Kalimat yang terdengar ringan itu sejatinya adalah isyarat, bahwa di balik panggung pemerintahan, mesin politik tengah bekerja dengan rapi. Gerindra dan Golkar, dua partai besar dalam Koalisi Indonesia Maju, bukan sekadar berdampingan, tetapi saling membaca peluang.

Isyarat itu tak berhenti di Kalimantan Timur. Gaungnya merambat hingga Morowali Utara, sebuah daerah kaya sumber daya alam, yang sejak lama menjadi incaran partai-partai besar. Dalam politik, wilayah seperti Morut bukan hanya ladang ekonomi, melainkan juga medan strategis perebutan pengaruh.

Pergantian Ketua DPC Gerindra Morowali Utara dari Doddy Adisatya ke Arman Purnama Marunduh bukan sekadar pergantian nama dalam struktur. Ia lebih menyerupai langkah bidak dalam papan catur Pilkada. Diam-diam, Gerindra tampak mulai merapikan barisan, menyusun skema, dan membaca arah angin politik lokal.

Di sisi lain, Golkar Morut memunculkan figur kuat, Warda Dg Mamala, SE. Nama ini mengkristal sebagai poros kekuatan baru. Dan politik koalisi selalu bekerja dengan hukum keseimbangan. Ketika satu poros menguat, poros lain menyiapkan sandaran.

Di titik inilah manuver Gerindra menemukan momentumnya. Arman Purnama Marunduh, kader dengan darah Raja Mori yang mengalir dalam nadinya, hadir sebagai figur pemersatu. Ia bukan hanya politisi parlemen dengan karier yang terus menanjak, tetapi juga simbol kultural yang diterima lintas iman dan latar belakang.

Dalam masyarakat Morowali Utara yang majemuk, paket Kristen–Islam atau Islam–Kristen bukan sekadar strategi elektoral, melainkan kebutuhan sosiologis.

Maka politik Morut hari ini bukan lagi soal siapa paling lantang, tetapi siapa paling siap. Gerindra membaca peluang, Golkar menyiapkan poros, dan rakyat Morowali Utara menjadi saksi bagaimana koalisi besar menata langkah jauh sebelum genderang Pilkada ditabuh.

Seperti kata Prabowo, friend, friend. Namun dalam politik, persahabatan selalu punya agenda. Dan di Morowali Utara, agenda itu mulai tampak di balik senyap manuver Gerindra.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less