Opini: Ramai-Ramai Jadi “Maling” Dana Desa
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Rabu, 10 Des 2025
- visibility 10
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Opini: Ramai-Ramai Jadi “Maling” Dana Desa
Belakangan ini, kasus penyalahgunaan Dana Desa seolah berubah menjadi “tren gelap” yang terus berulang. Setiap tahun, daftar oknum yang terjerat korupsi bertambah panjang, seakan ada budaya baru: jika menjabat, maka kesempatan pertama yang dicari adalah celah untuk menggerogoti anggaran. Padahal Dana Desa adalah napas pembangunan di kampung-kampung, bukan celengan pribadi bagi mereka yang diberi amanah.
Yang paling menyakitkan, praktik ini sering dilakukan secara bersamaan. Mulai dari kepala desa, aparat, hingga pihak-pihak yang ikut menikmati aliran anggaran, semuanya tampak saling menutup mata. Mereka bekerja dalam “senyap”, tapi dampaknya sangat bising bagi masyarakat yang akhirnya harus menerima fasilitas seadanya, jalan setengah jadi, program fiktif, hingga laporan pertanggungjawaban yang tidak jelas.
Fenomena “ramai-ramai maling Dana Desa” ini bukan hanya soal kerugian uang negara, tetapi kerusakan moral. Ketika pejabat level desa saja mulai menganggap korupsi sebagai hal lumrah, bagaimana masa depan tata kelola pemerintahan di tingkat yang lebih besar? Pelanggaran kecil dibiarkan,.sampai akhirnya menjadi borok besar yang menular dan mengakar.
Sudah saatnya desa menjadi benteng integritas, bukan pintu masuk kecurangan. Pengawasan harus diperketat, laporan harus transparan, dan masyarakat perlu berani bersuara. Karena jika dibiarkan, bukan hanya dana yang hilang, tetapi kepercayaan warga terhadap pemimpin mereka ikut tercuri. Dan itu jauh lebih mahal harganya.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar