Beasiswa Morut Tidak Cukup, Mahasiswi: Pak Gubernur tolong bantu kami anak tukang
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Jumat, 21 Nov 2025
- visibility 16
- print Cetak

Ket: Foto Illustrasi anak tukang bangunan berjuang masuk beasiswa BERANI CERDAS (AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT — Beasiswa Morut Cerdas mulai ditinggalkan para mahasiswa asal Morowali Utara. Banyak di antara mereka kini memilih untuk berjuang masuk ke program Berani Cerdas, beasiswa milik Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah yang dinilai lebih relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
Di lapangan, penyebab utamanya jelas: nominal bantuan Morut Cerdas yang hanya Rp1,5 juta per semester, jauh dari biaya kuliah yang harus ditanggung mahasiswa. Di Palu, UKT kampus negeri paling rendah berada di angka Rp2,5 juta, sementara kampus swasta mencapai Rp4 juta per semester. Dengan selisih yang begitu besar, beasiswa daerah ini dinilai tidak lagi mampu menopang kebutuhan dasar mahasiswa.
Salah satu mahasiswi asal Morowali Utara menjadi contoh paling nyata. Meski belum dinyatakan lulus dalam seleksi program Berani Cerdas, ia sudah keluar dari daftar penerima Morut Cerdas. Alasannya sederhana: ia yakin berkas terakhirnya akan segera lengkap dan bantuan Berani Cerdas jauh lebih besar serta lebih sesuai dengan kondisi ekonomi keluarganya.
“Kurang satu persyaratan lagi, harus ditandatangani dan dicap dosenku, kak. Setelah itu saya masuk Berani Cerdas. Saya sudah keluar dari daftar penerima beasiswa Morut Cerdas. Tidak bisa dobel,” ujar mahasiswi semester 3, asal Petasia Barat yang enggan namanya di publikasi (20/11)
“Orang tua saya hanya tukang bangunan, jadi saya berharap Pak Gubernur membantu kami anak-anak Morut yang memang susah.”
Pengakuan mahasiswi ini mencerminkan kegelisahan banyak mahasiswa Morut lainnya. Beasiswa Berani Cerdas yang mencapai Rp4 juta per semester dianggap jauh lebih mampu mengimbangi biaya pendidikan dan kebutuhan hidup mahasiswa di kota.
Fenomena yang sama terjadi di berbagai kampus. Mahasiswa Morowali Utara berbondong-bondong mengurus berkas untuk program Berani Cerdas, sebagian bahkan sudah melepaskan Morut Cerdas karena merasa nilai bantuannya tidak lagi memadai.
Bagi mereka, keputusan ini bukan persoalan memilih pemerintah mana, tetapi soal bertahan kuliah. Program yang mampu membantu secara nyata adalah program yang akan dipilih.
Gelombang perpindahan mahasiswa ini menjadi sinyal kuat bahwa Program Morut Cerdas kini tertinggal dari perkembangan zaman. Tanpa peningkatan nominal maupun perbaikan mekanisme, program ini terancam semakin ditinggalkan oleh generasi muda yang seharusnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.
Mahasiswa berharap sederhana: benahi Morut Cerdas, naikkan nilai bantuannya, perbaiki sistemnya, dan jadikan ia benar-benar membantu pendidikan anak daerah.
Karena masa depan Morowali Utara tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang didukung secara serius sejak di bangku kuliah.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar