Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Srikandi Dari Morut: Kiprah Empat Periode Warda Dg Mamala di Panggung Politik

Srikandi Dari Morut: Kiprah Empat Periode Warda Dg Mamala di Panggung Politik

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Jumat, 1 Agt 2025
  • visibility 29
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Morowali Utara — Dalam catatan sejarah politik Kabupaten Morowali Utara, nama Warda Dg Mamala, SE, telah terukir sebagai simbol ketangguhan dan ketulusan seorang perempuan yang mengabdi sepenuh hati bagi tanah kelahirannya. Lahir di desa kecil Tamainusi pada 3 Maret 1969, perjalanan hidupnya bukan hanya tentang pencapaian politik, tetapi juga tentang bagaimana keteguhan seorang perempuan mampu menembus batas-batas struktur sosial dan politik daerah.

Menapaki dunia politik dari akar rumput, Warda tidak datang dari panggung yang megah, melainkan dari realitas hidup desa yang jauh dari hiruk pikuk kota. Di sanalah ia belajar arti kerja keras, kemandirian, dan keberanian, nilai-nilai yang menjadi fondasi utama dalam setiap langkahnya.

Kini, Warda Dg Mamala dikenal luas sebagai politisi perempuan tangguh yang telah menjalani empat periode pengabdian di lembaga legislatif. Kiprah politiknya yang panjang telah memberinya tempat istimewa di hati masyarakat Morowali Utara. Pada periode 2019–2024 dan kembali pada 2024–2029, ia sukses membawa Partai Golkar mempertahankan 7 kursi di DPRD Morut—sebuah pencapaian yang tidak hanya mencerminkan kekuatan politik, tetapi juga kepercayaan masyarakat yang tidak luntur oleh waktu.

Sebagai Ketua DPRD Morowali Utara saat ini, dan juga menjabat sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Morowali Utara, Warda bukan hanya menjadi wajah dari keberhasilan perempuan dalam politik lokal, tetapi juga sosok yang memiliki pengaruh strategis dalam arah kebijakan dan pembangunan daerah.

Dekat dengan Rakyat, Dekat dengan Harapan

Di luar jabatan dan kekuasaan, Warda dikenal sebagai figur yang sederhana, bersahaja, dan sangat dekat dengan masyarakat. Tak jarang ia dijumpai hadir dalam kegiatan warga, dari hajatan sederhana hingga musyawarah desa. Ia bukan tipe politisi yang menjaga jarak, melainkan membuka ruang seluas-luasnya untuk mendengar dan merasakan denyut nadi rakyat.

“Kami tidak perlu protokoler untuk bicara dengan ibu Warda,” ujar seorang warga dari Kecamatan Petasia. “Beliau hadir di tengah-tengah kami seperti keluarga sendiri.”

Ada banyak hal yang dibuat Warda Dg Mamala dan senyap dari kamera serta pemberitaan. Selain itu Kesetiaan para pendukungnya juga tak lepas dari pendekatan hati yang ia lakukan. Pendekatan yang tidak hanya sebatas musim pemilu, tetapi konsisten dalam kerja nyata. Banyak anak-anak muda yang mendapatkan dukungan beasiswa atau pembinaan keterampilan melalui jaringan yang ia bangun. Bagi Warda, investasi terbaik bukan hanya pada infrastruktur fisik, tapi juga pada sumber daya manusia.

Srikandi dari Morowali Utara

Julukan “Srikandi Partai Golkar Morowali Utara” disematkan bukan tanpa alasan. Dalam epos Mahabharata, Srikandi dikenal sebagai simbol keberanian dan kepemimpinan perempuan. Warda Dg Mamala menghadirkan itu dalam politik lokal, menjadi figur yang tidak hanya mampu bersaing, tetapi juga menjadi teladan dalam integritas dan ketegasan.

Di tengah dunia politik yang sering keras dan sarat intrik, Warda berdiri dengan prinsip. Ia tidak mudah tergoda oleh pragmatisme, melainkan teguh dengan garis perjuangannya: politik sebagai alat pelayanan, bukan alat kekuasaan.

Membangun dari Pinggiran, mendengar suara rakyat

Satu hal yang selalu menjadi narasi dalam pidatonya adalah pentingnya membangun dari pinggiran. Pengalamannya tumbuh besar di desa menjadikannya paham betul tentang ketimpangan pembangunan. Oleh karena itu, sebagai Ketua DPRD, ia terus mendorong agar kebijakan anggaran lebih berpihak pada desa-desa terpencil, kelompok marginal, dan sektor-sektor rakyat kecil seperti pertanian, perikanan, dan UMKM.

“Pembangunan harus berpihak pada kepentingan semua masyarakat,” ucapnya dalam satu kesempatan.

Warisan Kepemimpinan

Di tengah era politik yang sering terjebak pada popularitas instan, sosok seperti Warda Dg Mamala menghadirkan oase keteladanan. Ia bukan hanya pemimpin dalam arti jabatan, tetapi juga pemimpin dalam sikap hidup. Konsistensinya selama empat periode di legislatif menjadi bukti bahwa politik dapat dijalani dengan cara yang bermartabat dan penuh pengabdian.

Bagi generasi muda, Warda adalah cermin bahwa asal-usul bukan halangan untuk menjadi pemimpin. Dari Tamainusi, desa kecil di Kecamatan Soyojaya, ia membuktikan bahwa kerja keras, ketulusan, dan keberanian dapat membawa seseorang berdiri di panggung tertinggi pengabdian.

Dan bagi Morowali Utara, Warda Dg Mamala bukan sekedar politisi. Ia adalah ibu, kakak, sahabat, dan pelayan rakyat yang selalu hadir, bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less