OPINI: Epy Bery Mengajari Arti Kebersamaan
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Jumat, 25 Jul 2025
- visibility 8
- print Cetak

Foto: Epy Bery (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
OPINI: Epy Bery Mengajari Arti Kebersamaan
Nama Epy Bery kini ramai diperbincangkan, terutama di tengah masyarakat Morowali Utara (Morut). Ia menjadi tokoh yang tak bisa dilepaskan dari peristiwa bentrokan antara warga Keuno dan Bimorjaya (Masara), yang terjadi Sabtu, 19 Juli 2025 lalu. Bentrokan itu menyisakan luka, pertanyaan, dan kegelisahan. Namun, di balik peristiwa itu, tersimpan pula pelajaran yang tak boleh kita abaikan.
Epy Bery adalah nama yang dulu mungkin biasa saja, tetapi kini menjadi simbol dari sebuah realitas yang kompleks: tentang kerja keras, solidaritas, dan di saat bersamaan, juga tentang gesekan antarbudaya yang belum sepenuhnya terjembatani.
Ia dikenal sebagai seseorang yang memiliki tanggung jawab di sebuah perusahaan, dan dari posisi itu, ia menggunakan pengaruhnya untuk membuka pintu bagi sesama perantau dari Alor, Nusa Tenggara Timur. Puluhan orang telah ia rekrut, diberi kesempatan untuk menghidupi keluarga mereka, dan yang lebih penting, membangun rasa persaudaraan di tengah kerasnya medan kerja dan kerasnya hidup di rantau.
Tapi tak semua memandang hal itu dengan mata yang sama. Sebagian melihatnya sebagai ancaman terhadap tatanan lokal, adat istiadat, dan struktur sosial yang telah lama ada. Maka, protes pun muncul. Seruan untuk “mengusir” Epy Bery dari Morut menggaung, seolah lupa bahwa dia dan rekan-rekannya pun manusia yang sedang berjuang, bukan sekedar angka dalam data ketenagakerjaan atau simbol dari “orang luar”.
Kita Harus Jujur Mengakui Satu Hal:
Peristiwa ini menyentil kita semua. Ia mengajak kita bertanya ulang tentang apa arti kebersamaan, apa makna persatuan di tanah yang kita sebut rumah ini. Apakah kita hanya mampu hidup berdampingan saat tidak ada yang berbeda? Apakah adat kita akan goyah hanya karena segelintir orang dari jauh datang bekerja keras dan saling bahu-membahu?
Yang menarik, dari kontroversi ini, justru banyak mata mulai terbuka, tokoh muda, para sesepuh, bahkan warga biasa mulai meresapi bahwa di balik semua ini ada cermin besar yang dipasang di hadapan kita: cermin yang memantulkan kenyataan bahwa kita sering lupa bahwa hidup bukan soal siapa yang datang lebih dulu, tapi siapa yang mau berjalan bersama.
Epy Bery dan rekan-rekannya, suka tidak suka, telah menunjukkan kekompakan yang langka. Mereka datang bukan untuk menantang, tapi untuk mencari nafkah. Mereka tidak menyebarkan permusuhan, tapi justru mengajarkan nilai solidaritas dan keberanian merantau demi keluarga. Bahkan ketika mereka berhadapan dengan ancaman, mereka akan kompak.
Tentu, hukum harus tetap berjalan.
Jika ada pelanggaran, biarlah aparat yang menentukan siapa yang bersalah, siapa yang bertanggung jawab. Tapi jangan kita terburu-buru mencap seseorang buruk hanya karena ia bukan bagian dari kelompok kita, bukan bagian dari adat yang kita pahami, atau karena ia membawa warna yang berbeda ke dalam kehidupan kita yang selama ini mungkin seragam.
Terkadang,,,,,Kita terlalu mudah mencurigai “yang asing”, dan terlalu cepat menghakimi. Padahal, harmoni sejati lahir bukan dari keseragaman, tapi dari kesediaan untuk mengelola perbedaan dengan hati lapang.
Hari ini, suara protes boleh terus bergema. Itulah demokrasi. Tapi di tengah suara-suara keras itu, mari kita jangan lupa mendengar suara yang lebih dalam: suara kemanusiaan. Suara yang mengingatkan kita, bahwa jika kita terus membiarkan diri terkotak-kotak, terbelah hanya karena perbedaan asal atau tradisi, maka sesungguhnya kita sedang menggali jurang sendiri.
Epy Bery memang bukan tokoh sempurna. Tapi mungkin justru di ketidaksempurnaannya, ia sedang memberi kita pelajaran yang mahal: bahwa kebersamaan adalah jalan panjang yang butuh pengorbanan, penerimaan, dan kesediaan untuk saling mengenal sebelum saling menilai.
Mari kita jaga Morowali Utara agar tetap menjadi tanah yang bisa ditinggali semua, bukan hanya oleh mereka yang lahir di sini, tapi juga oleh mereka yang datang untuk turut membangun.
Karena sesungguhnya, tidak ada yang lebih berbahaya dari masyarakat yang menolak belajar dari kenyataan—dan tidak ada yang lebih berharga dari masyarakat yang mau membuka hati, bahkan di tengah badai.
Jika kita cinta tanah lahir kita, tanah leluhur kita, tanah Mori, maka kita harus saling melihat, saling mendukung, bukan saling baku jolo.
Disclaimer: Tulisan ini sebagai sudut pandang lain dari Kelompok Epy Bery. Penulis mendukung aksi damai yang akan di gelar pada Hari Sabtu. Dan mengecam pengeroyokan yang menyebabkan warga terluka parah. Semoga kita selalu belajar mengambil hal positif dari setiap peristiwa.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar