Warga di Bungku Utara, Ceritakan Perjuangan Seorang Ibu Melahirkan dan Pendarahan Harus di Tandu
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 78
- print Cetak

Ket foto: Tangkapan layar seorang ibu harus ditandu warga (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MOROWALI UTARA – Perjuangan masyarakat dalam menyelamatkan seorang ibu yang baru saja melahirkan dan mengalami pendarahan menjadi kisah kemanusiaan yang mengharukan.
Kisah tersebut diceritakan melalui sebuah postingan media sosial Facebook milik Marten Katelu. Sabtu 12 September 2026. Dalam unggahannya, Marten menceritakan bagaimana warga bersama bidan desa berupaya mengevakuasi pasien di tengah keterbatasan fasilitas dan kondisi medan yang sulit.
Situasi sempat membuat warga kebingungan dan hampir menyerah. Pasalnya, mereka melihat kondisi seorang ibu yang baru selesai melahirkan mengalami pendarahan, sementara hari telah memasuki sore dan akses transportasi untuk membawa pasien ke fasilitas kesehatan sangat terbatas.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat masyarakat berhenti berusaha.
“Walaupun terasa sulit karena medan dan fasilitas yang terbatas, sampai mau menyerah karena tidak tahu apa yang akan dilakukan ketika melihat seorang ibu yang baru selesai melahirkan mengalami pendarahan,” tulis Marten dalam unggahannya.
Warga bersama Bidan Desa Matube dan masyarakat Kilo 9 kemudian mengambil keputusan untuk mengevakuasi pasien dengan cara digotong.
Hari semakin malam. Keinginan untuk membawa pasien ke desa terdekat maupun ke Puskesmas Kecamatan Baturube kembali terbentur persoalan transportasi.
Masyarakat tidak memiliki kendaraan yang dapat digunakan untuk melewati medan berat tersebut.
Harapan akhirnya datang sekitar pukul 21.00 WITA. Kepala Puskesmas Baturube bersama tim medis datang membawa kendaraan khusus yang mampu melewati medan sulit.
Meski kondisi jalan rusak dan harus beberapa kali melewati penyeberangan sungai, tim medis tetap melanjutkan perjalanan demi menjemput pasien.
“Karena ada panggilan kemanusiaan maka jalan yang rusak harus beberapa kali lewati penyeberangan sungai,” tulis Marten.
Pasien akhirnya berhasil dievakuasi menuju Puskesmas Baturube untuk mendapatkan penanganan medis.
Setelah itu, pasien kemudian dirujuk ke Kolonodale untuk mendapatkan pengobatan dan penanganan lanjutan.
Marten juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan tersebut, baik yang memberikan tenaga maupun bantuan lainnya.
Ia secara khusus mengucapkan terima kasih atas bantuan yang datang secara spontan, termasuk dukungan dana dari pihak Puskesmas Baturube untuk membantu keluarga pasien dalam menjalani pengobatan lanjutan di Kolonodale.
Kisah tersebut menjadi gambaran bagaimana keterbatasan akses, medan yang berat dan minimnya fasilitas transportasi tidak menghentikan upaya masyarakat ketika berhadapan dengan situasi darurat kemanusiaan.
Di tengah kondisi sulit, gotong royong warga, keberanian tenaga kesehatan dan kepedulian berbagai pihak akhirnya menjadi jalan bagi pasien untuk mendapatkan pertolongan medis.
“Terima kasih buat semua yang terlibat membantu, baik tenaga bahkan donasi bantuan yang tiba-tiba datang lewat sumbangan dana dari PKM Baturube untuk membantu keluarga pasien dalam pengobatan lanjutan ke Kolonodale,” tulis Marten.
Perjuangan itu bukan sekadar membawa seorang pasien menuju fasilitas kesehatan. Ini tentang bagaimana kepedulian dan semangat kemanusiaan tetap hidup ketika fasilitas dan akses belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat.
- Penulis: Redaksi Beritamorut

























































Saat ini belum ada komentar