Viral Bayi di Morowali Meninggal Usai Delapan Jam Menunggu Rujukan. Netizen Tandai Bupati, Gubernur Hingga Presiden
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Senin, 24 Nov 2025
- visibility 21
- print Cetak

Ket: Foto Illustrasi (AI)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Morowali — Kisah pilu seorang ibu muda, Ramdana N., mengguncang perasaan publik setelah ia membagikan pengalaman kelamnya melalui unggahan di Facebook.
Dalam ceritanya, Ramdana mengisahkan perjuangan getirnya mempertahankan nyawa buah hati yang akhirnya meninggal dunia setelah delapan jam menunggu proses rujukan medis. Kejadian ini memantik gelombang simpati, doa, kemarahan, dan seruan publik agar layanan kesehatan di Sulawesi Tengah segera dibenahi.
Ramdana menyampaikan bahwa ia telah membawa hasil USG sebanyak dua kali yang menunjukkan bayinya berukuran besar dan membutuhkan tindakan cepat. Namun, menurut penuturannya, ia justru diarahkan untuk menjalani persalinan normal. Ketika kondisi memburuk, ia dan suaminya memohon rujukan untuk operasi SC, namun mereka harus menunggu hingga berjam-jam lamanya. Saat rujukan akhirnya diberikan, kondisi sudah kritis karena kepala bayi telah berada di pintu rahim. Ramdana berjuang hampir tiga jam bersama tenaga medis, namun buah hatinya tidak selamat.
“Saya selamat dengan napas terpatah-patah disertai sobekan hebat dan sakit batin,” tulis Ramdana, memancing air mata para pembacanya.
Unggahan tersebut telah mendapat lebih dari 1.349 tanda suka, 710 komentar, dan dibagikan 2.197 kali. Warganet memenuhi kolom komentar dengan empati mendalam, dukungan moral, serta seruan agar ada perubahan nyata dalam sistem rujukan dan penanganan kegawatdaruratan ibu dan bayi.
Banyak warga menandai pemerintah daerah dan tokoh publik, mulai dari Bupati Morowali, Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, Kementerian Kesehatan hingga Presiden Prabowo dan Wapres Gibran, mereka mendesak pemerintah turun tangan langsung melihat kondisi Ramdana dan menemui keluarga korban. Publik menyampaikan bahwa pemimpin sejati adalah yang hadir mendengarkan tangis rakyatnya, terutama para ibu yang berjuang mempertaruhkan nyawa.
Kisah ini menjadi pengingat keras bahwa keselamatan ibu dan bayi adalah prioritas tertinggi. Publik berharap tragedi ini menjadi momentum memperbaiki layanan kesehatan agar tidak ada lagi ibu yang pulang hanya membawa luka dan tangisan.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar