RSUD Kolonodale: Megah untuk Siapa?
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
- visibility 11
- print Cetak

Ket: Tangkapan layar Sejumlah pejabat naik lift saat peresmian VIP/VVIP RSUD Kolonodale (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Sorotan publik tertuju pada manajemen RSUD Kolonodale. Kasus pasien operasi amandel yang berujung pendarahan hingga memantik reaksi DPRD, Komnas HAM Sulteng, organisasi mahasiswa, hingga Ombudsman, yang menaikkan status laporan keluarga ke tahap pemeriksaan, menjadi alarm serius.
Pasien tersebut akhirnya meninggal dunia, menimbulkan reaksi yang meluas di sosial media, pihak keluarga melayangkan protes dan laporan. Sejumlah pihak mendesak dilakukan evaluasi menyeluruh.
Di tengah polemik pelayanan, publik juga menyoroti keberadaan gedung VIP/VVIP tiga lantai dengan 31 ruang perawatan—mulai dari VIP hingga President Suite—lengkap dengan fasilitas lift dan peralatan medis terkini. Gedung tersebut diresmikan dengan dukungan DPRD sebagai simbol peningkatan layanan kesehatan.
Namun ironi muncul ketika masyarakat miskin pengguna BPJS justru kesulitan mendapatkan ruang kelas III saat kunjungan membludak. Di sinilah kritik mengarah pada orientasi kebijakan: apakah pembangunan fasilitas kesehatan difokuskan pada peningkatan akses layanan dasar, atau lebih menonjolkan citra kemewahan?
Masalahnya bukan pada keberadaan ruang VIP, melainkan pada ketimpangan prioritas. Ketika kelas III penuh dan rakyat kecil antre, sementara ruang istimewa tersedia, maka yang dipersoalkan adalah sensitivitas kebijakan
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar