Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Morut » Pilkades Serentak 2026, Siapa Bertahan Siapa Bertarung?

Pilkades Serentak 2026, Siapa Bertahan Siapa Bertarung?

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 33
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MORUT- Sebanyak 9 kecamatan dan 51 desa di Kabupaten Morowali Utara (Morut) akan menggelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak tahun 2026. Meski waktu pelaksanaan masih cukup panjang, dinamika politik desa mulai terasa. Sejumlah kepala desa petahana telah menunjukkan tanda-tanda siap bertarung, sementara lainnya masih menimbang langkah sambil merampungkan program kerja.

Media ini mencoba menghubungi beberapa petahana dari desa-desa strategis untuk mengetahui kesiapan mereka menghadapi kontestasi mendatang. Berikut potret lima kepala desa yang diprediksi bakal menjadi sorotan pada Pilkades serentak 2026:

1. Christol Lolo – Desa Bunta

Petahana Berprestasi yang Semakin Mantap

Nama Christol Lolo, Kepala Desa Bunta, nyaris tak pernah absen dalam daftar pemimpin desa yang berhasil membawa perubahan nyata. Di tengah berbagai tudingan terkait persoalan sengketa lahan, rekam jejaknya menunjukkan hal berbeda: Christol justru pernah menerima penghargaan dari Pemkab Morut atas pengelolaan ADD dan DD terbaik tahun 2019.

Di bawah kepemimpinannya, Desa Bunta menjelma menjadi desa maju, dengan ruang usaha masyarakat yang semakin terbuka. Tak sedikit warga menilai Christol adalah petahana yang sangat layak kembali bertarung.

2. Badudin – Desa Koya, Kecamatan Petasia

Didorong Warga untuk Maju Lagi

Meski belum memberikan pernyataan resmi, Kades Koya, Badudin, menjadi salah satu petahana yang paling kuat terdorong untuk kembali maju.

Warga menilai Badudin masih sangat dibutuhkan, terlebih ia sedang memacu sejumlah program penting seperti listrik masuk desa dan pembukaan akses jalan menuju Koya. Berkat bantuan PT GNI, 3,5 km jalan telah terbuka, menyisakan sekitar 1,5 km yang kini tengah diperjuangkan.

Dengan modal dukungan warga dan capaian program strategis, Badudin diyakini menjadi kandidat potensial di Pilkades mendatang.

3. Acil Helai – Desa Tiu

Pemimpin Tulus yang Menjadikan Amanah Sebagai Ibadah

Acil Helai, Kepala Desa Tiu, punya pandangan yang berbeda tentang kepemimpinan. Baginya, jabatan kepala desa bukan semata posisi, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan hati.

“Walaupun saya dimaki-maki warga, saya terima dengan ikhlas. Membangun desa Tiu itu seperti mengobati luka—harus pelan-pelan dan sabar,” tuturnya.

Salah satu komitmen terbesarnya adalah menjaga kelestarian Danau Tiu, sumber kehidupan masyarakat. Ia mengungkapkan pernah ada dua perusahaan yang limbahnya masuk ke danau, namun lewat dialog yang baik, perusahaan akhirnya membangun tanggul pencegahan.

Dedikasi Acil membuat dirinya dianggap sebagai pimpinan yang bekerja dengan hati, bukan sekadar perintah.

4. Suhardin Sakaria – Desa Onepute

Masih Menimbang Namun Berpotensi Kuat

Suhardin Sakaria, Kades Onepute, memang belum memastikan langkah politiknya. Namun melihat dukungan yang ada, peluangnya untuk kembali maju tetap terbuka lebar.

Program pembangunan yang berjalan baik dan hubungannya yang positif dengan masyarakat membuatnya menjadi salah satu petahana yang patut diperhitungkan saat Pilkades tiba.

5. Asrar Sondeng – Desa Tokonanaka

Petahana Kompetitor yang Tegas dan Siap Bertarung

Berbeda dengan beberapa petahana lain, Kades Tokonanaka, Asrar Sondeng, secara tegas menyatakan diri siap kembali bertarung.

“Saya akan maju kembali di Pilkades 2026 nanti, pak,” ujarnya.

Asrar saat ini tengah fokus memperjuangkan kompensasi bagi para nelayan Tokonanaka, sebuah isu yang menjadi perhatian besar masyarakat desa pesisir itu. Ketegasan sikapnya membuatnya masuk sebagai salah satu kandidat paling siap dalam kontestasi nanti.

Dengan berbagai rekam jejak, prestasi, dan tantangan yang dihadapi masing-masing desa, Pilkades serentak tahun 2026 diperkirakan akan berlangsung dinamis dan kompetitif. Para petahana membawa ciri khas dan capaian berbeda, sementara masyarakat akan memiliki ruang luas untuk menentukan siapa yang layak memimpin desa mereka lima tahun ke depan.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less