Orang Tua Siswa Bongkar Dugaan Kecurangan Lomba Kriya FLS3N Kabupaten Morut, Karya Siswa Dibantu Guru yang Juara
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
- visibility 30
- print Cetak

Ket foto: Karya siswa yang dilingkar, dibantu guru juara 2 (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Pelaksanaan lomba Kriya Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) tingkat SD/MI di Kabupaten Morowali Utara yang dipusatkan di Tomata. 10-13 Mei 2026, menuai kritik dari sejumlah orang tua siswa.
Lomba yang seharusnya menjadi ajang kreativitas berbasis bahan alam lokal itu dipersoalkan karena dinilai tidak berjalan sesuai ketentuan penilaian proses.
Sesuai juknis materi lomba, peserta diminta membuat mainan anak dari bahan khas daerah seperti kayu, rotan, bambu, daun, akar, kulit dan material alam sejenis. Penilaian seharusnya tidak hanya pada hasil akhir, tetapi juga mencakup proses pengerjaan, kesabaran, ketelitian, kerapian serta kreativitas peserta.
Namun sejumlah orang tua mengaku kecewa terhadap mekanisme penjurian. Keluhan itu disampaikan melalui media sosial maupun langsung kepada media ini. Mereka menilai juri tidak berada di lokasi selama proses pengerjaan berlangsung.
Menurut pengakuan orang tua siswa, juri disebut hanya hadir pada saat pembukaan lomba dan kembali datang setelah peserta menyelesaikan karya.
Kondisi ini dinilai bertentangan dengan aspek penilaian yang menekankan proses pembuatan karya.
“Juri tidak ada, hanya datang awal dan akhir. Mereka tidak melihat proses, yang jaga cuma panitia saja,” ujar salah satu orang tua siswa.
Orang tua siswa juga menyoroti jumlah juri yang hanya tiga orang untuk menilai keseluruhan lomba yang digelar bersamaan dengan lomba seni menulis. Akibatnya, juri disebut meninggalkan lokasi lomba kriya karena harus membagi waktu dengan cabang lomba lain.
Selain itu, muncul dugaan pelanggaran aturan selama lomba berlangsung. Dalam ketentuan, peserta tidak diperbolehkan mendapatkan bantuan.
Namun disebutkan ada peserta yang sebelumnya tidak ingin mengikuti lomba di lokasi, tetapi karya rumah-rumahan yang dibuat diduga dibantu oleh orang tua dan guru.
Tak hanya itu, pemenang juara pertama juga dipersoalkan karena menggunakan bahan kardus yang disebut tidak termasuk dalam daftar material yang diperbolehkan dalam ketentuan lomba kriya berbasis bahan alam.
Video yang diterima media ini memperlihatkan para juri hadir saat karya peserta telah selesai dibuat. Hal tersebut semakin memperkuat kritik bahwa proses penilaian tidak dilakukan secara menyeluruh sejak awal hingga akhir lomba.
Para orang tua berharap penyelenggara melakukan evaluasi agar pelaksanaan FLS3N ke depan lebih transparan, adil, dan benar-benar menilai proses kreativitas siswa sesuai aturan yang telah ditetapkan.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar