Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Istana Raja Mori: Jejak Arsitektur Kolonial Belanda dan Simbol Perlawanan Wita Mori

Istana Raja Mori: Jejak Arsitektur Kolonial Belanda dan Simbol Perlawanan Wita Mori

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
  • visibility 47
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Morowali Utara – Di atas sebuah bukit setinggi kurang lebih 25 meter dari permukaan laut, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang Kerajaan Wita Mori. Istana Raja Mori, terletak di Desa Kolonodale, Kecamatan Petasia, menjadi satu-satunya bangunan kerajaan di wilayah timur Sulawesi Tengah yang memadukan kekuatan tradisi lokal dengan sentuhan arsitektur kolonial Belanda.

Walaupun dikenal sebagai pusat kekuasaan Kerajaan Wita Mori, istana ini justru menampilkan gaya bangunan yang terpengaruh kuat oleh arsitektur kolonial Belanda. Tampak dari bentuknya yang menyerupai landhuis, hunian perkebunan khas Eropa era Hindia Belanda.

Ket: Istana Raja Mori (IST)

Pondasi beton setinggi 1,08–1,17 meter, ciri umum bangunan kolonial untuk menghindari kelembaban tanah tropis. Tata massa bangunan induk dan anak bangunan yang simetris, khas perencanaan Belanda. Ventilasi besar dan langit-langit tinggi, menciptakan sirkulasi udara baik sesuai kebutuhan iklim tropis.

Struktur rumah panggung modifikasi, perpaduan antara gaya lokal Mori dan adaptasi teknik kolonial. Luas kompleksnya mencapai 960 m², menjadikan istana ini salah satu bangunan bersejarah terbesar di kawasan Teluk Tomori.

Bangunan ini kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya, tidak hanya karena nilai sejarah kerajaan, tetapi juga karena karakter arsitektur kolonialnya yang unik di tengah budaya Mori.

Di balik bangunannya yang bergaya kolonial, Istana Raja Mori menyimpan sejarah panjang sebuah kerajaan persemakmuran. Kerajaan Wita Mori dahulu merupakan gabungan wilayah-wilayah otonom yang dipersatukan oleh bahasa, adat, dan hubungan kekerabatan yang sama.

Hubungan historis dengan Kerajaan Luwu juga sangat kuat, termasuk kewajiban upeti tahunan serta kisah-kisah tua tentang Sawerigading yang masih hidup hingga kini di masyarakat Mori.

Meski kini istananya mengandung unsur kolonial, Wita Mori dikenal sebagai kerajaan yang gigih melawan Belanda.

1856 – Perang Mori Pertama (Perang Ensaondau) dipimpin Raja Tosaleko. Pasukan Belanda berhasil merebut beberapa benteng, namun kerajaan tetap tidak tunduk dan tetap diakui sebagai entitas merdeka.

1907 – Perang Mori Kedua (Perang Wulanderi) dipimpin Raja Marunduh (Datu ri Tana). Perang ini berakhir setelah Raja gugur, menjadi momen paling kelam dalam sejarah Mori dan menandai berakhirnya kedaulatan kerajaan.

Ironisnya, setelah masa peperangan dan penetrasi kolonial, justru unsur arsitektur Belanda hadir pada bangunan bekas pusat kekuasaan Mori yang kini kita kenal sebagai Istana Raja Mori.

Berdasarkan rekomendasi Bupati Poso tahun 1997 dan pernyataan resmi ahli waris Awolu Marunduh, istana ini diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai warisan sejarah yang harus dilestarikan.

Saat ini, Istana Raja Mori bukan sekadar bangunan kolonial yang unik, tetapi juga simbol perjalanan panjang masyarakat Mori dalam mempertahankan jati diri, kekuasaan, dan sejarahnya.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less