Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Morut » Ini wilayah yang disebut Topaku, bekas perkampungan tua di Tomata yang sarat cerita sejarah

Ini wilayah yang disebut Topaku, bekas perkampungan tua di Tomata yang sarat cerita sejarah

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
  • visibility 44
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MORUT- Apa itu Topaku? Sebuah nama yang belakangan jadi pemberitaan media ini, sebab tim sepakbola U12 Putra Topaku FC tampil di Liga Anak Indonesia di Pati, Jawa Tengah pada akhir Desember 2025 lalu.

Topaku adalah nama kampung tua, warga masyarakat yang berasal dari wilayah Topaku dan bergabung dengan Tomata. Wilayah ada dibagian desa Tomata yang kini menjadi area yang kosong. Wilayah yang sarat dengan cerita sejarah pada masa penjajahan dan perlawanan masyarakat.

Dalam tulisannya Aditya Ponsendo menjelaskan sejarah Tomata berikut ini,

Tanah Mori dan Suku-Suku Penghuninya

Tanah Mori adalah suatu daerah yang dihuni oleh berbagai suku serumpun yang memiliki bahasa dan budaya yang hampir sama. Salah satu suku terbesar di antara suku-suku tersebut adalah Suku Molio’a (lurus). Suku ini hidup berdampingan dengan suku-suku lain, seperti To Doule (Kampung nDoenTobu), To Wanga (Kampung Koro Minanga), To Kala’e (Kampung Kandu’u’ndu’u), dan To Tananda di sisi kiri Sungai Kadata.

Persebaran Kampung Suku Molio’a (1906–1907)

Pada tahun 1906, Suku Molio’a memiliki 33 kampung yang tersebar mulai dari Gunung Legowi hingga Lembah Wawompatende. Beberapa kampung, seperti Endemburake (wurake menari), Wawompatende, Olompada (antara padang), Tandondoka, Tandaisule (terjungkir), Siwe (cacar bebek), dan Togolinde (pulau jinjit) kemudian bersatu pada tahun 1907 dan membangun permukiman baru di Kanta, sementara kampung-kampung lainnya membangun kampung di Talemboi dan Tana Sumpu.

Kepala Kampung Kanta adalah Tadulako Panta Posende atau Papa i Lantiuna. Ia bukan berasal dari Molio’a, melainkan dari Suku Pada. Namun, karena kecakapannya, ia dipilih untuk memimpin orang-orang Molio’a.

Pada peristiwa di Rano i Tole, Papa i Lantiuna memimpin penyerangan terhadap tentara kolonial dan didampingi oleh Tadulako Dae, Tadulako Parompe, Tadulako Managanta, Tadulako Kapita, dan lainnya.

Pemindahan Kampung Kanta dan Lahirnya Tomata

Pasca peristiwa di Tanah Wulanderi tahun 1907, Papa i Lantiuna diperintahkan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mengumpulkan seluruh tulang-belulang tentara Belanda yang gugur pada peristiwa di Rano i Tole, serta mengembalikan semua senapan. Selain itu, ia juga diperintahkan untuk memindahkan Kampung Kanta ke lokasi yang akan dilalui jalan raya.

Maka, sekitar tahun 1908, Kampung Kanta dipindahkan ke tepian Sungai Saludu di wilayah Suku Pada (To Pada). Kampung baru tersebut diberi nama Tomata (artinya: “yang diperhatikan”), dengan kepala kampung pertamanya tetap Tadulako Panta Posende (Papa i Lantiuna).

Pada tahun 1910, Kampung Tomata sudah terdaftar dalam catatan pemerintah kolonial Belanda dan masuk dalam wilayah Afdeling Posso, Onderafdeling Bungku-Mori dengan pusat pemerintahan di Kolonodale, Distrik Mori Atas yang beribu kota di Sampalowo.

Adapun fam atau marga penduduk asli Kanta yang pindah dan mendirikan Kampung Tomata antara lain: Posende, Parawi, Banatau, Managanta, Kandori, Botuale, Bandau, Reo, Mokonio, Pangko, dan lainnya.

Perkembangan Pendidikan dan Agama

Penduduk Kampung Tomata mendapat perhatian dari pemerintah dalam pengembangan pendidikan. Pada tahun 1914, diutus seorang guru dari Minahasa bernama Walewangko Potu, yang kemudian terdaftar sebagai guru tetap pada tanggal 1 Agustus 1915 dengan wilayah tugas Tomata dan Londi.

Kehidupan masyarakat sejak hadirnya sekolah semakin baik, tetapi agama Kristen belum mudah diterima oleh penduduk. Berdasarkan laporan pada tahun 1918, belum ada di antara mereka yang bersedia masuk Kristen. Pada tahun itu sebenarnya Papa i Lantiuna akan dibaptis; namun ia mengurungkan niatnya karena bertikai dengan mandor jalan di Tomata.

Sementara itu, penduduk tidak berani memeluk Kristen apabila kepala kampung belum memberikan perintah. Setelah tahun 1920, ketika penduduk Kampung Tomata mulai menerima kekristenan, pihak zending mengutus dua pemuda pada tahun 1921 ke Pendolo untuk mengikuti pendidikan persiapan menjadi pendeta dan guru.

Kedua pemuda itu adalah Mantaroso Parawi dan Lala’apu Banatau, yang lulus pada tahun 1925. Pada tahun 1933, zending kembali mengutus seorang pemuda asli Tomata bernama Lasaeo Kandori untuk bersekolah di Pendolo dan ia lulus pada tahun 1937.

Pada tahun 1935, penduduk Kampung Tomata dan Mayumba diserang penyakit gondok sehingga banyak yang meninggal dunia.

Masa Pendudukan Jepang dan Peristiwa Tragis 1942

Pada tahun 1942, ketika Jepang masuk ke Mori dan jabatan Kepala Kampung Tomata dijabat oleh Lonsi Rabeta, terjadi pengejaran oleh tentara Jepang terhadap Van Daalen dan sisa-sisa tentara Belanda setelah tertembaknya Kapten Maeda Hidemaru di Kampung Topaku.

Pada awalnya penduduk Tomata memihak Belanda, tetapi ketika melihat Belanda tidak lagi berdaya, mereka terpaksa bersikap seolah-olah mendukung Jepang. Akhirnya, yang menjadi korban adalah Kepala Kampung Tomata sendiri, Lonsi Rabeta, yang dipancung di Korololaki pada tahun 1942.

Topaku Pasca Kemerdekaan dan Penyatuan dengan Tomata

Setelah kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada tahun 1947, di bawah pemerintahan Ue Petondoni Arumpone sebagai Kepala Kampung Topaku, kampung tersebut dipindahkan ke wilayah Tomata, tepatnya di lokasi lapangan saat ini, dan diberi nama Kampung Lembo Roroi (dataran tumbuhan sejenis kapuk). Karena banyak penduduk jatuh sakit dan meninggal di tempat itu, mereka kemudian dipindahkan ke lokasi Lembo Roroi yang sekarang. Adapun fam orang Topaku antara lain: Belora, Arumpone, Pamuna, Mosiangi, dan lainnya. Pada tahun 1949, Kampung Lembo Roroi bergabung dengan Kampung Tomata. Sejak saat itu, kedua kampung menjadi satu kesatuan dengan nama resmi Kampung Tomata.

Kepala Kampung Tomata Zaman Belanda dan Jepang :
1. Tadulako Panta Posende
2. Tadulako Parompe Bandau
3. Tadulako Dae Kandori
4. Ue Lonsi Rabeta

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less