Diduga Pihak TNI Tutup Mata, dan Pemilik Tronton Ingkar Janji. Kecelakaan, Kaki Pdt. Yetty Engka Dua Kali Diamputasi
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
- visibility 19
- print Cetak

Ket foto: Kondisi Pdt. Yetty Engka (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Peristiwa tragis terjadi di Desa Tontowea pada Senin, 9 Maret 2026. Sebuah truk tronton pengangkut alat berat untuk proyek cetak sawah terguling dan melindas kaki seorang warga Moleono, Pdt. Yetty Engka.
Kecelakaan yang terjadi di siang hari, saat arus lalu lintas lalu lalang, meninggalkan luka fisik sekaligus trauma mendalam bagi keluarga korban.
Truk tronton tersebut diketahui mengangkut alat berat untuk kegiatan proyek cetak sawah oleh TNI.
Ironisnya, kendaraan besar itu melintas tanpa pengawalan, padahal mobilisasi alat berat pada jam sibuk jelas berisiko tinggi. Fakta pahit pun terjadi, kecelakaan tak terelakkan dan korban jatuh.
Saat peristiwa tragis ini terjadi media kami melakukan konfirmasi, personel Polantas Polres Morowali Utara sudah berada di lokasi kejadian. Sementara pihak Koramil setempat mengaku belum mengetahui secara detail peristiwa tersebut.
“Saya coba tanyakan ke Babinsa Tontowea,” ujar salah satu anggota Koramil saat itu.
Kecelakaan tersebut mengubah hidup Pdt. Yetty Engka secara drastis. Hampir dua bulan lamanya ia menjalani perawatan intensif di RSUD Undata Palu. Dua kali operasi amputasi pada kaki kanan harus dijalani, disertai pemasangan pen pada kaki kiri
Kini, kehidupan keluarga berubah total. Tiga putri mereka yang tengah menempuh pendidikan harus menyaksikan sang ibu terbaring lemah, berjuang antara harapan dan kenyataan.
Meski demikian, keluarga tetap memilih memaknai musibah ini sebagai ketetapan Tuhan. Saat media berkunjung ke rumah tempat Pdt. Yetty menjalani masa pemulihan di Palu, kamis malam, 14 Mei, senyum tetap terpancar dari wajahnya, suami Richard Ipang, dan anak-anak mereka.
Mereka menuturkan Pemilik truk tronton, Roberto Dee, sempat mendatangi keluarga korban saat perawatan di RSUD Undata Palu. Ia menyatakan kesediaannya membantu biaya pengobatan yang ditaksir mencapai Rp99.250.000.
Kesepakatan awal, ia menyerahkan Rp30 juta terlebih dahulu dan berjanji melunasi sisanya secara cicilan Rp10 juta per bulan. Korban pun harus menjalani kontrol medis dua kali seminggu selama tiga bulan.
Namun situasi berubah setelah transfer awal dilakukan. Pemilik kendaraan meminta bantuan kesepakatan keluarga agar mobilnya bisa segera keluar dari Polres Morowali Utara. Keluarga korban meminta adanya surat perjanjian sebagai jaminan komitmen pembayaran.
Tidak lama kemudian, pemilik truk meminta kembali Rp25 juta dari Rp30 juta yang telah diberikan, dengan alasan hanya menyumbang Rp5 juta.
“Saya minta kembali 25 juta dari 30 yang saya transfer. Lima juta saya sumbang saja. Kasus dilanjutkan karena tidak sesuai kesepakatan,” tulis Roberto Dee saat dikonfirmasi media melalui pesan WhatsApp, 14 Mei 2026.
Ia bahkan meminta pertemuan lanjutan di Polres Morowali Utara pada Senin, 18 Mei.
Di sisi lain, kondisi Pdt. Yetty belum memungkinkan ditinggal sendiri, sehingga suami tidak dapat menghadiri pertemuan tersebut.
Keluarga kini berharap ada rasa adil bagi keluarga, keluarga juga berharap bisa komunikasi dengan sosok muda yang peduli pada kemanusiaan dan berasal dari tempat yang sama, Dr. Mardiman Sane, agar bisa membantu mereka komunikasi dengan pihak kepolisian.
Yang paling menyayat hati, pihak TNI yang adalah pengelola proyek dan menggunakan mobilisasi alat berat tersebut, diduga tidak menunjukkan empati terhadap penderitaan korban, bahkan terkesan “tutup mata”.
Padahal, musibah bisa terjadi pada siapa saja. Namun rasa kemanusiaan dan tanggung jawab seharusnya tidak berhenti pada kata-kata.
Kini keluarga hanya meminta satu hal: keadilan, kepastian, dan kepedulian.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar