Biru Membujuk, Kuning Menggoda. Kemana Hati Fauzan Mamala Berlabuh?
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
- visibility 16
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Ditengah hiruk pikuk dinamika politik Morowali Utara, satu nama anak muda menarik jadi perbincangan: Muh. Fauzan Ari Nugraha, S.AP atau yang akrab disapa Fauzan Mamala. Pertanyaan yang kian menguat bukan lagi apakah ia akan terjun ke politik, melainkan ke mana hatinya akan berlabuh, ke kuning atau ke biru.
Fauzan Mamala memilih diam. Ketika media mencoba menggali sikap politiknya, ia menutup rapat pintu pernyataan. Namun di balik kebisuan itu, langkah-langkah sosialnya berbicara lantang. Dukungan terhadap dunia olahraga hingga kepedulian langsung kepada masyarakat terus ia tunjukkan, seolah menegaskan bahwa kerja nyata lebih dulu daripada deklarasi warna.
Belakangan, warna biru mencuat ke permukaan. Seorang kader PAN Morowali Utara secara terbuka mengakui tengah berupaya membujuk Fauzan Mamala agar bergabung. Optimisme pun tak disembunyikan.
“Jujur kami berusaha membujuk Ochan gabung di PAN. Malam ini juga saya akan bertemu. Kami yakin bisa bersama-sama,” ujarnya, Sabtu (27/12).
Isyarat Fauzan Mamala menyukai biru memang santer terdengar dari lingkaran terdekatnya. Bagi sebagian kalangan, PAN dianggap sebagai ruang baru yang memberi kebebasan dan peluang besar bagi figur muda dengan modal sosial kuat seperti Fauzan.
Namun kuning tak tinggal diam. Kehadiran mobil pribadi Fauzan Mamala dalam iring-iringan kegiatan Partai Golkar belakangan justru memantik tafsir berbeda. Di mata publik, itu bukan sekadar kebetulan.
“Mobil Fauzan Mamala dibarisan kuning, jelas apa-apa,” tulis seorang netizen, menegaskan bahwa simbol politik sering kali berbicara lebih keras daripada pernyataan resmi.
Kini, kuning dan biru seolah saling menunggu keputusan. Fauzan Mamala berdiri di persimpangan, di antara loyalitas, pendekatan personal, dan masa depan politik yang masih ia simpan rapat.
Apakah biru yang sedang membujuk dengan kesabaran, atau kuning yang telah lama hadir dalam lintasan langkahnya?
Jawabannya, untuk sementara, masih tersimpan di hati Fauzan Mamala sendiri, tenang, senyap, namun penuh makna. Tetapi bisa jadi seperti pepatah bijak, siapa cepat dia dapat.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar