Empat Anak Muda Morowali Utara, Dibalik Kemudi Ambulans Relawan Fauzan Mamala
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 264
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
REZA, ANGKO, DINIL, DAN DANU — Bukan Sekadar Mencari Nafkah, Mereka Memilih Menjadi Bagian dari Perjuangan Menyelamatkan Sesama.
Di tengah tren anak muda masa kini yang berlomba-lomba membangun karier di perkantoran maupun perusahaan, empat pemuda asal Morowali Utara ini justru memilih jalan yang berbeda.
Mereka adalah Reza, Angko, Dinil, dan Danu. Empat anak muda yang menjadikan jalan raya sebagai tempat pengabdian, kemudi ambulans sebagai alat perjuangan, serta kemanusiaan sebagai alasan untuk terus bergerak.
Menariknya, dari keempat pemuda ini, hanya Danu yang telah menikah. Sementara Reza, Angko, dan Dinil masih belum berkeluarga. Namun, perbedaan status itu tidak mengurangi semangat mereka untuk mengambil bagian dalam pekerjaan kemanusiaan.
Mereka bergabung menjadi sopir ambulans relawan yang mengikuti langkah Muh. Fauzan Ari Nugraha, S.AP., atau yang dikenal dengan Fauzan Mamala, sosok yang menyediakan layanan ambulans gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Bagi mereka, pekerjaan ini bukan sekadar memegang kemudi dan mengantarkan penumpang dari satu tempat ke tempat lain.
Ada tanggung jawab besar di balik setiap perjalanan. Ada pasien yang membutuhkan pertolongan, keluarga yang sedang berduka, serta harapan masyarakat yang harus diantar dengan penuh kepedulian.
Tidak semua perjalanan berlangsung mudah. Panjangnya jarak, rasa lelah, waktu istirahat yang terkadang terabaikan, hingga panggilan mendadak menjadi bagian dari keseharian mereka.
Namun, ada satu hal yang membuat mereka tetap bertahan: kesempatan untuk membantu sesama.
Reza, Angko, Dinil, dan Danu menjadi gambaran bahwa anak muda tidak harus selalu mengejar pekerjaan yang terlihat bergengsi. Sebab, kehormatan juga lahir dari keberanian mengambil tanggung jawab sosial dan hadir ketika orang lain membutuhkan.
Mereka mungkin tidak setiap hari mengenakan seragam kantor, duduk di balik meja, atau bekerja di gedung perusahaan. Tetapi di balik kemudi ambulans, ada nilai pengabdian yang tidak bisa diukur hanya dengan materi.
Empat anak muda, satu kemudi pengabdian, dan satu tujuan: kemanusiaan.
Karena menjadi muda bukan hanya tentang mengejar masa depan sendiri, tetapi juga tentang berani memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain.
- Penulis: Redaksi Beritamorut

























































Saat ini belum ada komentar