PLTS 256 kWp di Tambang Morowali Utara, Xurya Andalkan Teknologi Pemantauan Jarak Jauh
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Kamis, 15 Okt 2026
- visibility 176
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MOROWALI UTARA – Pemanfaatan energi terbarukan mulai diterapkan di kawasan pertambangan Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Salah satunya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hybrid off-grid berkapasitas 256 kWp di area pertambangan PT Central Omega Resources Tbk, yang dilengkapi sistem penyimpanan energi baterai atau Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 251 kWh.
Sistem yang dioperasikan Xurya tersebut mulai beroperasi pada September 2026. Kehadiran PLTS ini menjadi salah satu contoh penerapan teknologi energi surya di lokasi pertambangan yang membutuhkan pasokan listrik andal, termasuk melalui integrasi panel surya, baterai, dan sumber listrik lainnya seperti generator diesel.
Berbeda dengan PLTS yang terhubung ke jaringan listrik umum, sistem hybrid off-grid memerlukan pengelolaan yang lebih kompleks untuk memastikan seluruh komponen bekerja secara terintegrasi dan mampu menjaga keandalan pasokan energi di lokasi operasional.
Co-Founder sekaligus Director of Technology Xurya, Edwin Widjonarko, mengatakan pengembangan PLTS dalam skala besar tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan pembangkit. Pengoperasian dan pemeliharaan juga menjadi faktor penting agar pembangkit dapat terus berfungsi optimal selama masa produktifnya.
“Ketika kita berbicara tentang 100 GWp PLTS, kita juga perlu memikirkan bagaimana seluruh kapasitas ini bisa terus beroperasi setiap hari. Sebab, kemandirian energi bukan hanya tentang membangun pembangkit, tetapi juga memastikan PLTS tetap berfungsi optimal sepanjang masa produktifnya. Dengan masa produktif lebih dari 20 tahun, kita perlu memastikan setiap PLTS terus terpantau kondisinya, gangguan dapat direspons dengan cepat, dan aset dapat dikelola dari jarak jauh (remote) meskipun tersebar di berbagai wilayah Indonesia,” ujar Edwin.(15/10).
Untuk mendukung operasional pembangkit di Morowali Utara, teknologi Industri 4.0 memungkinkan tim ahli Xurya memantau kinerja dan mengoperasikan sistem PLTS hybrid off-grid dari jarak jauh, kapan pun dan dari mana pun.
Pemantauan tersebut mencakup produksi listrik, performa sistem, telemetri, konektivitas jaringan, keselamatan, serta kondisi cuaca yang dapat memengaruhi produksi energi surya.
Edwin menjelaskan bahwa pengoperasian dan pemeliharaan PLTS tidak hanya sebatas membersihkan panel surya. Ada berbagai aspek teknis yang harus diperhatikan agar kinerja pembangkit tetap optimal.
“Masih ada anggapan bahwa pengoperasian dan pemeliharaan (O&M) PLTS hanya sebatas membersihkan modul surya. Padahal, ada banyak aspek lain yang perlu diperhatikan untuk menjaga kinerja PLTS tetap optimal. Tim operator perlu memantau produksi listrik harian hingga ke tingkat larik panel, memastikan sensor berfungsi dan terkalibrasi dengan baik, memeriksa kondisi lahan dan jalur air, serta melakukan pemeliharaan dan menangani gangguan yang muncul. Tim juga harus menganalisa data untuk memahami apakah penurunan produksi disebabkan oleh cuaca, performa sistem, atau kesalahan pengukuran,” jelasnya.
Menurut Xurya, penerapan otomatisasi pemrosesan data membantu memangkas waktu analisis masalah hingga lebih dari 90 persen. Hal ini memungkinkan penanganan gangguan dilakukan lebih cepat dan mendukung keberlanjutan operasional pembangkit.
Pengoperasian PLTS dalam skala besar juga membutuhkan sumber daya manusia dengan kompetensi yang semakin beragam. Keahlian yang dibutuhkan tidak hanya berkaitan dengan teknik kelistrikan, tetapi juga analisis data, jaringan komunikasi, pemrograman, pemecahan masalah, serta pengelolaan aset dan inventaris.
“Kompetensi yang dibutuhkan semakin beragam dan menuntut keterampilan analitis yang lebih kuat, bukan semata-mata hard skill yang selama ini banyak ditemukan pada teknisi lapangan,” lanjut Edwin.
Ia menilai, pengembangan industri PLTS dapat membuka peluang peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal sekaligus menciptakan lapangan kerja profesional dalam jangka panjang.
“Artinya, perkembangan sektor PLTS juga akan mendorong peningkatan keterampilan (skill upgrade) dan pengembangan SDM yang berkualitas di sektor kelistrikan. Bayangkan, dengan 100 GWp PLTS, berapa banyak lapangan kerja profesional dengan tingkat penghasilan tinggi yang tidak hanya tercipta, tetapi juga dapat bertahan selama puluhan tahun ke depan. Instalasi PLTS hanya membutuhkan waktu beberapa bulan, sedangkan pengoperasiannya dapat berlangsung lebih dari 20 tahun,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya pengembangan sumber daya manusia, Xurya menghadirkan Solar Academy Indonesia (SAI), yang berfokus pada pengembangan pengetahuan dan kapasitas SDM di industri energi surya.
Melalui program tersebut, Xurya berbagi pengetahuan dan praktik industri untuk memperluas pemahaman tentang energi surya sekaligus mendorong tenaga kerja lokal mengembangkan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Edwin berharap program pengembangan PLTS nasional dapat menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia.
“Saya yakin, jika dikelola dengan baik, program 100 GWp ini dapat menjadi kesempatan emas untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal Indonesia. Transisi energi bukan hanya mendukung kemandirian energi, tetapi juga membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan,” tutup Edwin.
Penerapan PLTS hybrid off-grid di kawasan pertambangan Morowali Utara menjadi salah satu contoh pemanfaatan energi surya di lingkungan industri. Keberhasilan jangka panjangnya akan bergantung pada kemampuan menjaga keandalan sistem, mengoptimalkan operasional, serta memastikan manfaat teknologi tersebut dapat diukur secara berkelanjutan.
- Penulis: Redaksi Beritamorut

























































Saat ini belum ada komentar