Doktor Mardiman Sane, Kebaikan yang Terus Bergerak
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
- visibility 7
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Ditengah hiruk-pikuk dunia politik dan bisnis yang sering diukur dari untung-rugi, Doktor Mardiman Sane (MDS) memilih jalan yang berbeda. Ia menempatkan kemanusiaan di atas segalanya.
Suatu hari penulis berbagi cerita karna kebetulan, kami berasal dari kampung yang sama, desa Sampalowo. Penulis sendiri lahir di Sampalowo, berkat pertolongan orang tua dari MDS yang seorang bidan terkenal di masanya. Sosok yang juga membesarkan nilai kemanusiaan pada diri seorang MDS.
Doktor Mardiman Sane atau yang akrab disapa MDS bukan sekadar seorang advokat ataupun pengusaha. Ia adalah sosok yang mampu menjadi penasehat, tempat bertukar pikiran, sekaligus sahabat bagi banyak anak muda. Cara berpikirnya luas, namun tetap sederhana dalam memperlakukan orang lain.
Kesibukan membangun usaha dan berkarir di dunia hukum tak pernah membuatnya lupa bahwa ada sisi kehidupan yang harus terus dirawat, yakni kepedulian terhadap sesama. Itu terlihat nyata lewat aksi-aksi kemanusiaan yang ia lakukan tanpa banyak sorotan.
MDS menghadirkan ambulans di berbagai titik yang memang sangat dibutuhkan masyarakat. Bukan untuk pencitraan, melainkan karena ia memahami betapa sulitnya warga mendapatkan layanan cepat saat situasi darurat datang tiba-tiba. Bahkan di saat kabar duka menyelimuti sebuah keluarga, ambulans miliknya sering menjadi yang pertama hadir.
Dan ketika seluruh armada sedang sibuk, ia tetap berupaya membantu keluarga yang berduka dengan cara lain. Tidak sedikit orang yang akhirnya merasakan langsung bagaimana kepedulian itu bekerja tanpa syarat.
Soal politik, mungkin banyak orang masih menerka-nerka langkahnya menuju 2029. MDS pernah gagal dalam pertarungan politik, baik saat maju sebagai calon bupati maupun ketika bertarung menuju DPR RI. Namun kegagalan itu tidak membuatnya berhenti berbuat baik.
Sebab sejatinya, tidak semua orang yang pernah kalah masih mau terus berkorban untuk masyarakat. Tetapi MDS memilih tetap hadir, tetap membantu, dan tetap bekerja dalam diam.
Penulis menyaksikan sendiri bagaimana kerja-kerja ambulans itu berjalan. Tidak ada keuntungan pribadi yang ia dapatkan. Justru biaya perawatan kendaraan hingga perbaikan alat sering menguras dana besar, bahkan mencapai puluhan juta rupiah. Namun semua itu tetap dijalani dengan ikhlas.
Bagi MDS, membantu sesama tidak selalu harus menunggu jabatan. Kemanusiaan tidak membutuhkan panggung besar untuk dibuktikan.
Ia membantu sepenuh hati. Atas dasar kemanusiaan. Itu saja.
- Penulis: Redaksi Beritamorut











Saat ini belum ada komentar