Permintaan Meti di Morut Meningkat di Bulan Ramadhan, Capai 150 Liter Perhari
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
- visibility 33
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Morowali Utara – Bulan suci Ramadhan membawa berkah tersendiri bagi para pencari dan pengupas Meti, kerang khas warga Morowali Utara yang banyak ditemukan di Sungai Laa. Permintaan yang melonjak tajam membuat para pengupas harus bekerja lebih keras demi memenuhi pesanan pasar.
Di Desa Tompira, yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil Meti, aktivitas warga terlihat lebih sibuk dari biasanya. Ember-ember berisi kerang segar berjajar, sementara para ibu-ibu duduk berkelompok, cekatan mengupas satu per satu Meti yang akan dijual ke pemborong.
“Bulan Ramadhan ini kadang sampai 150 liter per hari,” ujar Ibu Fat, Selasa (3/3).
Lonjakan permintaan ini dipicu meningkatnya konsumsi masyarakat saat berbuka puasa. Meti kerap diolah menjadi berbagai hidangan favorit, mulai dari tumis pedas, santan rempah, hingga campuran sayur bening khas pesisir.
Menurut Ibu Fat, harga Meti di tingkat pemborong saat ini mencapai Rp25 ribu per liter. Sementara itu, para ibu-ibu pengupas menerima upah Rp3 ribu per liter. Meski upahnya tidak besar, peningkatan volume pesanan membuat penghasilan mereka ikut terdongkrak selama Ramadhan.
Bagi warga Tompira, Meti bukan sekadar hasil sungai, melainkan sumber penghidupan yang mengalir seiring arus Sungai Laa. Ramadhan tahun ini menjadi momentum berkah, ketika tradisi kuliner lokal bertemu dengan denyut ekonomi masyarakat desa.
Di tengah kesederhanaan, suara cangkang yang terbelah dan tawa para ibu-ibu menjadi gambaran nyata bagaimana Ramadhan menghadirkan rezeki bagi warga pesisir Morowali Utara.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar