Merawat Toleransi di Kalatidha
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Kamis, 25 Sep 2025
- visibility 11
- print Cetak

Foto: Toleransi Beragama (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Opini- Merawat Toleransi di Kalatidha
Kita sedang hidup di sebuah era yang oleh Ranggawarsita pernah disebut Kalatidha—masa penuh ketidakpastian. Di zaman digital yang serba cepat ini, nilai-nilai luhur sering tergeser oleh provokasi. Media sosial menjadikan setiap orang “penerbit” sekaligus “konsumen” harusnya menutup ruang intoleran.
Di sinilah lahir “zaman edan” yang sesungguhnya: bukan karena teknologi, melainkan karena manusia mudah terseret arus emosi, ikut-ikutan, dan mengabaikan prinsip toleransi agama.
Toleransi yang dahulu menjadi kekuatan bangsa mulai terkikis oleh polarisasi, sentimen identitas, dan politik kebencian. Paham-paham sempit disebarkan lewat unggahan pendek, sementara diskusi mendalam dan saling mendengar justru makin jarang. Kita seperti terjebak dalam budaya instan, mengabaikan toleransi beragama.
Merawat toleransi di zaman seperti ini bukanlah tugas ringan. Ia memerlukan keberanian moral untuk berkata “tidak” pada provokasi, kemampuan literasi digital yang baik, serta teladan nyata dari pemimpin, tokoh agama, pendidik, dan warganet itu sendiri. Toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik sehari-hari: menghargai perbedaan keyakinan, menghormati ruang publik bersama, dan bersuara dengan etika.
Bila Kalatidha adalah masa yang penuh keraguan, maka jalan keluarnya justru memperkuat prinsip dasar kebangsaan: Bhinneka Tunggal Ika. Mengembalikan diskursus publik pada nalar sehat dan empati adalah bentuk perlawanan paling efektif terhadap “zaman edan” yang memecah belah. Dengan begitu, kita bukan sekadar bertahan, tetapi juga menanam benih peradaban baru yang lebih inklusif bagi generasi mendatang.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar