Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Daerah » Rayakan Maulid dengan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Longki: Nabi SAW adalah Teladan Toleransi dan Demokrasi

Rayakan Maulid dengan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Longki: Nabi SAW adalah Teladan Toleransi dan Demokrasi

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Sabtu, 6 Sep 2025
  • visibility 15
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Palu – Indonesia sebagai bangsa yang majemuk kembali diingatkan pentingnya merawat persatuan di tengah tantangan era digital.

Hal itu disampaikan oleh Drs. H. Longki Djanggola, M.Si dalam acara Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bertema “Merawat Kebangsaan, Melawan Hoaks, Menangkal Provokasi, Menjaga Indonesia”, di Palu, Jumat (5/9/2025), bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1447 H, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Longki menyebutkan momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, teladan Rasulullah ketika menyatukan masyarakat Madinah yang beragam lewat Piagam Madinah menjadi inspirasi bagi Indonesia menjaga persatuan melalui Empat Pilar: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Seperti Nabi yang mempersatukan Muhajirin, Anshar, Yahudi, dan Nasrani, kita pun harus menjadikan Empat Pilar sebagai penyangga persatuan Indonesia. Nabi adalah teladan toleransi dan demokrasi,” simpulnya.

Longki tidak menutup mata atas peristiwa demonstrasi beberapa hari terakhir di sejumlah kota yang berujung ricuh dan memakan korban jiwa. Ia menilai kejadian itu tidak lepas dari peran pihak-pihak yang menyebarkan hoaks dan memprovokasi masyarakat.

Menutup paparannya, ia mengajak generasi muda untuk menjadi penjaga harmoni, bukan penyulut perpecahan.

“Jadilah pemadam api, bukan penyulut bara. Jaga persatuan negeri ini,” imbuhnya.

Pada kesempatan sama, Ketua Forum Kerukunan Antar-Umat Beragam (FKAUB) Sulteng, Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang dibangun di atas keberagaman etnis, agama, bahasa, dan budaya. Menurutnya, semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar jargon, melainkan realitas sehari-hari masyarakat sejak proklamasi 17 Agustus 1945.

Namun, Zainal mengingatkan bahwa perjalanan bangsa selalu diwarnai ujian. Di era digital saat ini, tantangan semakin kompleks dengan derasnya arus informasi 0
tanpa batas.

Media sosial, kata dia, memang mempermudah penyebaran berita, tapi sekaligus menjadi ruang subur bagi hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi yang dapat memicu konflik horizontal.

Prof. Zainal menawarkan Peta Jalan Kebangsaan dengan empat pont penting.

“Itu adalah merawat kebangsaan, melawan hoaks, menangkal provokasi demi menjaga Indonesia,” jelas tokoh pemikir Islam kontemporer ini.

Ia menutup sosialisai dengan penegasan bahwa aktualisasi empat pilar kebangsaan bukan hanya keharusan normatif, tetapi juga kebutuhan strategis dalam menjaga keberlangsungan bangsa.

“Tugas kita bersama, sebagai seluruh elemen masyarakat, adalah menghidupkan nilai-nilai ini dalam kehidupan nyata, bukan sekadar dalam wacana,” pungkasnya. ***

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less