Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Morut » Putra Laeto: Gagal Jadi PPPK, Bukan Karena Tak Layak, Tapi Karena Sistem yang Terlalu Kaku

Putra Laeto: Gagal Jadi PPPK, Bukan Karena Tak Layak, Tapi Karena Sistem yang Terlalu Kaku

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Minggu, 12 Okt 2025
  • visibility 2
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Morowali Utara —Namanya Putra Laeto, anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Morowali Utara. Sehari-hari, ia dikenal sebagai sosok muda yang rajin, disiplin, dan selalu siap saat dipanggil tugas. Rekan-rekannya menyebutnya loyal kepada atasan, dan setia pada panggilan tugas.

Namun di balik semangatnya menjaga ketertiban, ada kisah getir yang menyesakkan dada. Tahun 2024 lalu, Putra mendaftar seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Semua berkas ia siapkan, semua syarat ia penuhi. Tapi sistem menolak pendaftarannya, hanya karena satu hal: usia.

Saat mendaftar, usia Putra baru 19 tahun. Padahal jika menunggu sedikit waktu — saat penyerahan SK nanti — usianya genap 20 tahun, tepat sesuai syarat.
Semuanya kandas bukan karena kemampuan, bukan karena kurang dedikasi, tapi karena perhitungan sistem yang kaku dan tanpa hati.

“Putra itu rajin masuk kantor, rajin piket, loyal sama atasan. Dia terakhir menghadap hari Jumat lalu,” ujar salah satu rekan kerjanya dengan nada lirih.

Ironinya, di saat nama Putra terpental dari daftar penerima SK, isu honorer “siluman” justru ramai diperbincangkan. Ada yang diduga bisa lolos meski tak jelas status kepegawaiannya.
Sementara anak asli daerah Mori, yang setiap hari berdiri di lapangan dengan seragam kebanggaannya, justru tak dilirik, tak dibantu.

Bayangkan bagaimana rasanya: satu kantor memakai NIP baru, sementara ia sendiri tidak.
Setiap pagi tetap datang apel, tetap berjaga, tetap menegakkan disiplin — tapi namanya tak tercantum di daftar penerima SK.

Padahal semua tahu, kalau kebijakan sedikit dilenturkan, Putra pasti memenuhi syarat.
Toh, saat SK dibagikan, usianya sudah genap 20 tahun — sudah dewasa, sudah siap mengabdi.

Tapi sistem tidak mengenal empati. Dan sering kali, mereka yang tak punya “orang dalam” juga tak punya kesempatan.

Putra Laeto hanyalah satu dari sekian banyak anak muda daerah yang punya semangat tinggi, tapi terhenti di pintu kebijakan yang dingin.

Mungkin bagi pemerintah, ini hanya soal “aturan”. Tapi bagi Putra, ini adalah soal mimpi yang dirampas sebelum sempat tumbuh.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less