Kader Posyandu di Morut Pusing DD Tidak Cair
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
- visibility 3
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Kegiatan posyandu di Desa Woomparigi, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, tetap berjalan seperti biasa. Bayi ditimbang, ibu hamil diperiksa, dan lansia mendapat pelayanan kesehatan. Namun di balik rutinitas itu, para kader posyandu kini memikul beban yang tidak ringan: menalangi biaya kegiatan dengan uang pribadi, bahkan harus berutang.
Rosmiati, salah satu kader posyandu, mengaku sudah empat bulan terakhir mereka menjalankan kegiatan tanpa dukungan Dana Desa (DD). Padahal, setiap bulan posyandu wajib digelar untuk balita, ibu hamil, dan lansia.
“Menu kegiatan tidak ada dananya, tapi kami harus tetap jalan. Kadang pinjam ke kepala desa kalau ada uang, kadang pakai dana sendiri,” ungkap Rosmiati. (7/4).
Dalam satu bulan, kebutuhan biaya posyandu tidak kecil. Untuk posyandu balita saja sekitar Rp750 ribu, ibu hamil Rp750 ribu, dan posyandu lansia juga sekitar Rp750 ribu. Artinya, hampir Rp2,25 juta harus disiapkan setiap bulan agar layanan kesehatan masyarakat tetap berjalan.
Beban itu kini terasa semakin berat karena kegiatan telah berjalan hingga bulan keempat tanpa kepastian pencairan Dana Desa. Bahkan, tujuh kader posyandu di Desa Woomparigi juga belum menerima insentif sebesar Rp300 ribu per orang.
Meski demikian, para kader tetap bertahan. Bagi mereka, posyandu bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi kebutuhan dasar masyarakat desa yang tidak boleh berhenti.
Kini, harapan para kader hanya satu: Dana Desa segera cair, agar pengabdian yang mereka jalankan tidak terus dibayar dengan utang dan pengorbanan pribadi.
- Penulis: Redaksi Beritamorut











Saat ini belum ada komentar