Warda Dg Mamala dan Ujian Ketulusan Politik Orang-orang Sekelilingnya
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 99
- print Cetak

Ket foto: Warda Dg Mamala, SE (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Warda Dg Mamala dan Ujian Ketulusan Politik Orang-orang Sekelilingnya
Oleh: Om Hendly
(Penulis adalah jurnalis Beritamorut.com)
MOROWALI UTARA – Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Morowali Utara (Morut) memiliki modal politik yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Selama dua periode terakhir, partai berlambang pohon beringin ini mampu mempertahankan tujuh kursi di parlemen. Sebuah kekuatan yang menempatkan Golkar sebagai salah satu poros penting dalam percaturan politik daerah.
Momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Partai Golkar menjadi ruang refleksi untuk melihat lebih jauh eksistensi partai kuning ini di Morowali Utara. Bukan sekadar menghitung jumlah kursi, tetapi juga mengukur seberapa kuat fondasi internal dan seberapa tulus orang-orang yang berdiri di belakang kepemimpinannya.
Di bawah kepemimpinan Warda Dg Mamala, SE, Golkar Morut menunjukkan daya tahan politik yang patut diperhitungkan. Target menambah kursi legislatif pada pemilu mendatang menjadi gambaran ambisi untuk memperbesar pengaruh politik partai.
Sebagai politisi perempuan yang juga dikenal sukses dalam dunia usaha, Warda memiliki modal pengalaman, jaringan, dan kemampuan untuk menjaga eksistensi partai. Sentuhan politiknya menjangkau berbagai lapisan, dari lingkaran elite hingga akar rumput.
Namun, dalam politik, kekuatan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah kursi. Partai yang tampak kokoh dari luar belum tentu sepenuhnya solid di dalam.
Di balik barisan yang terlihat kompak, selalu ada pertanyaan yang layak direnungkan: apakah seluruh orang yang berada di lingkaran kekuasaan benar-benar memiliki tujuan yang sama? Ataukah sebagian hanya bertahan selama kepentingan pribadi mereka masih terakomodasi?
Pertanyaan ini bukan tuduhan terhadap individu tertentu, melainkan pengingat bahwa setiap organisasi politik perlu menguji ketulusan orang-orang di sekelilingnya.
Sebab, loyalitas yang sesungguhnya tidak hanya terlihat ketika kepentingan berjalan searah, tetapi justru teruji ketika muncul perbedaan, kritik, dan situasi yang tidak menguntungkan.
Riak-riak kecil dalam internal partai mungkin terlihat sepele. Namun, jika dibiarkan tanpa komunikasi dan evaluasi yang sehat, persoalan kecil dapat berkembang menjadi hambatan besar. Apalagi jika energi organisasi lebih banyak terserap untuk menjaga kepentingan kelompok daripada memperjuangkan target bersama.
Di sinilah pentingnya kehadiran orang-orang di sekitar Warda Dg Mamala yang tidak hanya pandai memberikan pujian, tetapi juga berani menyampaikan koreksi. Pemimpin membutuhkan dukungan, tetapi dukungan yang sehat bukanlah kepatuhan tanpa batas.
Pemimpin yang kuat bukan pemimpin yang selalu mendengar hal-hal menyenangkan, melainkan pemimpin yang bersedia mendengar kebenaran, termasuk ketika kebenaran itu terasa pahit.
Jangan sampai pemimpin merasa dikelilingi oleh orang-orang yang solid, padahal yang terbangun hanyalah barisan yang solid selama kepentingan mereka terpenuhi.
Dalam politik, uang dan kemampuan finansial memang dapat menjadi salah satu faktor pendukung. Namun, uang tidak bisa membeli ketulusan secara permanen. Kepentingan yang dibangun semata-mata atas dasar materi berpotensi berubah ketika peluang lain dianggap lebih menguntungkan.
Karena itu, Golkar Morut perlu membedakan mana kader yang benar-benar bekerja untuk membesarkan partai dan mana pihak yang sekadar menikmati keuntungan dari besarnya pengaruh partai.
Kebesaran hati Warda Dg Mamala dalam menapaki perjalanan politik patut menjadi bahan pembelajaran. Akan tetapi, perjalanan panjang sebuah partai tidak cukup hanya mengandalkan figur sentral. Diperlukan kader yang berintegritas, pengurus yang berani bersikap jujur, serta barisan yang memahami bahwa membesarkan partai berarti membangun kepentingan bersama, bukan memperkuat posisi pribadi.
Tujuh kursi parlemen adalah modal politik. Namun, mempertahankan tujuh kursi sekaligus menambahnya pada pemilu mendatang membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan figur, jaringan, dan sumber daya. Dibutuhkan kepercayaan, konsolidasi, serta keberanian membersihkan pola pikir yang menjadikan kepentingan pribadi sebagai tujuan utama.
Pada akhirnya, HUT ke-62 Partai Golkar semestinya bukan hanya menjadi perayaan perjalanan organisasi, melainkan juga momentum untuk bercermin.
Sebab, tantangan terbesar sebuah partai terkadang bukan datang dari lawan politik di luar, melainkan dari persoalan yang tidak pernah diselesaikan di dalam.
Dan bagi seorang pemimpin, pertanyaan paling penting bukan hanya siapa yang berdiri di belakangnya, tetapi siapa yang tetap jujur ketika semua orang di sekelilingnya memilih untuk menyenangkan hatinya.
Sebab, partai yang besar tidak hanya membutuhkan banyak pendukung. Partai yang besar membutuhkan orang-orang yang berani menjaga kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu tidak selalu menguntungkan mereka sendiri.
- Penulis: Redaksi Beritamorut

























































Saat ini belum ada komentar