Pesan ART Untuk Presiden Prabowo dan Polri
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 189
- print Cetak

Ket foto: ART (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Beritamorut.com- Sejak Jokowi berkuasa, dengan sekian banyak Kapolri di sampingnya, Polri dijuluki oleh publik dengan sebutan yang sangat buruk ‘partai coklat alias parcok’. Itu akibat Polri tidak sungguh-sungguh menjaga jarak dari politik partisan. Bahkan, sulit disangkal, polisi menikmati limpahan anggaran dan privilese berkat kesediaannya disalahgunakan sebagai salah satu mesin pemenangan politik Penguasa.
Dari kacamata kenegaraan, penguasa yang memanipulasi institusi kepolisian pantas disebut sebagai penguasa jahat. Lembaga kepolisian yang merelakan dirinya disalahgunakan oleh penguasa juga layak disikapi sebagai organisasi yang sakit dan menyakiti kepercayaan masyakarat. Pimpinan lembaga kepolisian yang toksik sedemikian rupa sejatinya telah melakukan pelanggaran berat terhadap kode etik institusinya sendiri.
Di tengah reputasi buruk yang Polri sandang itu, Presiden Prabowo menunjuk Jenderal Suyudi Arie Seto (SAS) sebagai Kapolri. Penunjukan itu dikabarkan tidak berdasarkan kedekatan pribadi. Kabar tersebut masuk akal karena sebelumnya disebut-sebut Prabowo akan menunjuk salah satu Kapolda dari Indonesia tengah sebagai TB1.
Patut diharapkan, pengangkatan Kapolri yang tidak berdasarkan nepotisme itu menjadi penanda awal bagaimana Prabowo mencoba mengembalikan Polri ke lintasan kerja yang semestinya. Ini langkah koreksi besar terhadap pembusukan korps Tribrata oleh Penguasa sebelumnya.
Prabowo telah memulai. Sekarang giliran SAS. Seberapa jauh ia sanggup mendekonstruksi lalu merekonstruksi Polri yang telah dideligitimasi dari dalam secara sistematis dan terus-menerus oleh Tito Karnavian, dan Listyo Sigit.
Abdul Rachman Thaha (ART) menyampaikan pesannya kepada Polri dan Presiden Prabowo.
“Dengan dasar berpikir sedemikian rupa, sebetulnya saya menyayangkan bahwa pemurnian Polri dari politik partisan tidak tercantum eksplisit dalam agenukda prioritas Kapolri SAS. Tagline “Polri bersama masyarakat” memang cukup menjanjikan. Tinggal lagi turunan dan penerapan tagline itu harus dirumuskan serta dikawal seketat mungkin, agar tidak terulang trauma kolektif ketika Polri justru terasa lebih dekat bersama penguasa, bersama politikus, bersama oligarki, bersama mafia, dan bersama preman ketimbang bersama masyarakat,”ujar ART
Ketangguhan pribadi Jenderal SAS merupakan kunci terealisasinya “Polri bersama masyarakat” secara konsekuen. Pada sisi itu, semoga keteguhan pribadi Jenderal Abdul Haris Nasution dan Jenderal Hoegeng menitis ke Kapolri SAS.
Sebagai parameter kesungguhan Kapolri SAS pada semboyan “Polri bersama masyarakat”, saya mengusulkan empat kasus yang patut diprioritaskan untuk Polri tangani. Pertama, dugaan penganiayaan terhadap Ilma Sani Fitriana oleh Hercules dan GRIB Jaya. Kedua, audit kerja Puslabfor Polri pada kasus dugaan ijazah palsu Jokowi. Ketiga, memulai penyelidikan terhadap dugaan pidana oleh Komisi Penyelenggara Pemilu terkait skandal pelolosan Gibran sebagai cawapres tanpa kelengkapan berupa ijazah SMA. Keempat, bekerjasama dengan Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam pengungkapan korupsi program MBG — termasuk menyegerakan pemeriksaan terhadap pejabat Polri yang terindikasi terlibat di dalamnya.
Pada akhirnya, saya berpesan kepada Kapolri Jenderal SAS “Takutlah pada Allah SWT., bukan pada penguasa” bahkan bukan pada presiden. Saya yakin dan percaya bahwa SAS tidak akan pernah takut kehilangan jabatan demi sebuah tujuan kemaslahatan Ummat dan Bangsa. Masyarakat membutuhkan nama baru sebagai cerminan bahwa polisi yang layak diteladani tidak berhenti pada Jenderal Hoegeng.
Wabil Khusus saya juga tak luput berpesan kepada Saudara Presiden Prabowo Subianto Bahwa Takutlah pada Allah SWT. Sang Pemilik nafas jiwa-jiwa manusia, pemilik Alam semesta, bukannya takut pada sebuah Kelompok Oligharki dan lingkarannya.
Saya punya keyakinan bahwa Saudara Presiden Prabowo mempunyai sikap yang tegas, nyali yang besar untuk singkirkan orang-orang yang hanya memanfaatkan situasi dan kondisi untuk meraup sebuah keuntungan Pribadi dan kelompok.
Semoga Saudara Presiden menjadilah Presiden yang Beriman, Saudara Kapolri menjadilah polisi yang beriman.
- Penulis: Redaksi Beritamorut

























































Saat ini belum ada komentar