Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Kopi Bencue, Ole-ole Khas Morut yang Belum Bisa Dijual di Alfamidi

Kopi Bencue, Ole-ole Khas Morut yang Belum Bisa Dijual di Alfamidi

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Senin, 14 Sep 2026
  • visibility 183
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MOROWALI UTARA – Dari sebuah desa di pelosok Morowali Utara, Kopi Bencue perlahan mulai menembus pasar yang lebih luas. Kopi khas produksi kelompok UMKM Desa Peleru itu kini tidak hanya dinikmati masyarakat Morowali Utara, tetapi telah sampai ke Palu, Makassar, bahkan menembus pasar hingga Kalimantan.

Namun, di balik perjalanan tersebut, masih ada satu pintu yang hingga September 2026 belum berhasil mereka buka: masuk ke jaringan ritel modern Alfamidi.

Padahal, perjuangan untuk menembus pasar ritel modern itu sudah menunjukan progres sejak Agustus 2026. Kelompok pengelola Kopi Bencue bahkan telah menandatangani kerja sama melalui Memorandum of Understanding (MoU) dengan Perseroda sebagai bagian dari upaya memenuhi tahapan agar produk UMKM tersebut dapat masuk ke jaringan pemasaran yang lebih besar.

Sayangnya, hingga Senin (14/9/2026), harapan tersebut masih harus menunggu.

Ketika dikonfirmasi mengenai perkembangan proses masuk Alfamidi, pengurus Kopi Bencue menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu konfirmasi terkait salah satu persyaratan administrasi.

“Wa’alaikumsalam, belum ada kak, masih menunggu konfirmasi dari pihak GS1 terkait membership,” tulis pengurus Kopi Bencue, Senin (14/9).

Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi UMKM yang selama ini tumbuh dengan kekuatan sendiri.

Dalam sebulan, kelompok tersebut rata-rata mampu memproduksi sekitar 200 paket kopi, dengan omzet laba bersih mencapai sekitar Rp1 juta per bulan. Angka tersebut memang belum besar, tetapi menunjukkan bahwa produk lokal dari Desa Peleru memiliki pasar dan terus bergerak.

Ketua kelompok Kopi Bencue, Isnawati, mengatakan produk mereka saat ini telah mengantongi sertifikat halal dari MUI. Pemasaran dilakukan melalui media sosial serta sistem titip jual di sejumlah toko dengan mengandalkan prinsip saling percaya.

Kopi Bencue kini telah menjangkau konsumen di luar Morowali Utara. Palu dan Makassar menjadi bagian dari jalur pemasaran mereka, bahkan produk kopi dari Desa Peleru itu telah sampai ke Kalimantan.

Bagi UMKM kecil di desa, perjalanan tersebut bukan sesuatu yang mudah.
Mereka harus memproduksi, mengemas, memasarkan, membangun kepercayaan konsumen, sekaligus memenuhi berbagai persyaratan untuk bisa masuk ke pasar yang lebih besar.

Kini, tantangannya tinggal bagaimana perjuangan tersebut bisa membawa Kopi Bencue masuk ke rak-rak Alfamidi.
Sebab bagi pelaku UMKM, masuk ke ritel modern bukan sekadar soal menjual kopi. Itu adalah kesempatan bagi produk desa untuk dikenal lebih luas, sekaligus membuka jalan bagi usaha kecil agar bisa tumbuh dan naik kelas.

Untuk harga, Kopi Asli Bencue tersedia dalam beberapa pilihan kemasan. Ukuran 100 gram dijual Rp14.000, 200 gram Rp23.000, dan 500 gram Rp53.000.
Dari Peleru untuk pasar yang lebih luas, Kopi Bencue masih terus berjuang.

Belum sampai di rak Alfamidi, bukan berarti berhenti. Justru di situlah perjuangan UMKM lokal untuk naik kelas sedang dimulai.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less