Baru Tiba dari Makassar, Ambulans Fauzan Mamala Kembali Bergerak Antar Jenazah ke Makassar, Kemanusiaan Tanpa Jeda
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 105
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MOROWALI UTARA — Pengabdian untuk kemanusiaan tak mengenal kata lelah. Hal itu kembali ditunjukkan oleh tim Ambulans Relawan Muh. Fauzan Ari Nugraha, S.AP atau yang akrab dikenal sebagai Fauzan Mamala.
Senin pagi, 24 Agustus 2026, ambulans tim Fauzan Mamala baru saja tiba di Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara, setelah menempuh perjalanan dari Makassar untuk mengantarkan jenazah warga Morut.
Namun, belum sempat benar-benar beristirahat, kendaraan kemanusiaan itu kembali bergerak. Tim langsung membantu proses pengantaran jenazah warga menuju Kampung Bugis, dalam wilayah Kota Kolonodale.
Pengabdian itu bahkan berlanjut hingga Senin sore. Ambulans kembali bertolak, kali ini menuju Tomata untuk menjemput jenazah di Puskesmas Tomata dan mengantarkannya ke rumah duka di Kota Makassar.
Dalam sehari, kendaraan yang menjadi simbol pelayanan itu seakan tidak mengenal jeda. Datang dari perjalanan jauh, membantu keluarga yang berduka di Kolonodale, kemudian kembali menempuh perjalanan panjang menuju Makassar.
Di balik setiap perjalanan tersebut, ada empat orang sopir ambulans yang disiapkan dan standby penuh selama 24 jam. Mereka bergantian berada di garis depan pelayanan kemanusiaan, memastikan setiap keluarga yang membutuhkan bantuan tidak harus menghadapi perjalanan terakhir orang tercinta seorang diri.
Bagi keluarga yang sedang berduka, ambulans bukan sekadar kendaraan. Ia adalah jalan untuk memulangkan orang tercinta, sekaligus menjadi bentuk kepedulian ketika kondisi keluarga sedang berada pada titik paling berat.
Apa yang dilakukan tim Ambulans Fauzan Mamala, menjadi gambaran bahwa kemanusiaan tidak cukup hanya dibicarakan. Ia membutuhkan tenaga, waktu, perjalanan panjang, bahkan pengorbanan untuk terus bergerak ketika orang lain membutuhkan pertolongan.
Baru tiba, kembali bergerak. Belum sempat beristirahat, kembali mengabdi.
Inilah wajah pengabdian yang bekerja dalam diam—menempuh jalan panjang, mengantar jenazah, meringankan beban keluarga, dan hadir ketika kemanusiaan benar-benar membutuhkan uluran tangan.
Sebab pada akhirnya, kemanusiaan bukan tentang seberapa banyak yang kita bicarakan, tetapi seberapa jauh kita bersedia bergerak untuk membantu sesama.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar